Mengucap Minal ‘Aidin: Kisah Introvert dengan Suasana Hati yang Tak Terungkap

Idul Fitri senantiasa membawa kenangan-kenangan yang tak terlupakan. Kunjungan keluarga, gelak tawa si kecil-si kecil, serta wangi hidangan spesial Lebaran merupakan elemen-elemen dalam merayakan hari raya tersebut. Akan tetapi, di tengah segala sesuatunya, ada satu hal yang selalu aku tunggu-tunggu: pesan minal ‘aidin dari sang adik.

Ia tidak terlalu suka bergurau. Bahkan sejak muda, dia sudah bersikap tenang dan diam, sangat bertolak belakang dibanding saudara-saudaranya yang gemar mengekspresikan diri. Di setiap acara berkumpulnya keluarga, orang ini biasanya hanya melihat dan tersenyum, hampir tak pernah membuka mulut untuk ngobrol atau curhat panjang lebar.

Kami memiliki perbedaan umur dua tahun. Walaupun selisih tersebut tak begitu besar, pendekatan kita terhadap kehidupan tampak sangat kontras. Saya menikmati proses bercerita dan berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan dia cenderung tertutup, seperti merasa lebih tenang ketika menyendiri di alam semesta pribadinya.

Sejak kita mulai tumbuh dewasa dan memiliki keluarga sendiri, saat menyebut “minal ‘aidin” pada hari raya sudah jadi hal yang kusanggupi menantikannya. Bukan sebab ingin diberitahu tentang permintaan maaf, tapi lebih keinginan untuk memandangnya ketika dia mengungkapkannya tersebut.

Setiap tahun berganti, dan setiap Lebaran tiba, dia selalu melakukannya dengan cara yang sama. Mendekati, bersalaman, mengenakan senyum kemudian pergi. Tak ada ucapan keluar dari mulutnya. Seperti bagi dirinya, ungkapan minal ‘aidin terlalu berat untuk diungkapkan.

Beberapa kali selama Idul Fitri yang sudah berlalu, saya sempat menangkap suaranya yang halus mengalun di antara pegangan tangannya dan senyumnya. Katanya “minal ‘aidin” terdengar sangat memberatkan baginya, seperti membutuhkan upaya ekstra agar kata-kata itu bisa meluncur dari bibirnya.

Idul Fitri tahun ini juga sama saja. Dia muncul, bersalaman dengan saya, mengulum senyum, lalu diam sebentar. Saya menantikan kata-katanya. Akhirnya, dia berkata perlahan sekali, “Minal ‘aidin.” Pendek namun hampir tak terdengar, tapi sungguh penuh makna.

Saya kurang paham kenapa dia kesulitan menyebutkan frasa “minal ‘aidin”. Bisa jadi ini disebabkan oleh sikapnya yang cenderung tertutup atau adanya beban emosi yang belum dapat diutarakan. Saya hanya yakin bahwa kalimat tersebut tentu membawa arti penting bagi dirinya. Dia memang bukan tipikal orang yang lancar dalam bercerita, terlebih lagi untuk menggambarkan perasaaannya.

Sesudah kalimat tersebut dilontarkan, perasaanku menjadi sangat kompleks dan tak mudah dideskripsikan. Aku merasa ringan hati, bersemangat, serta begitu bersyukur. Ini bukan sekadar karena dia pada akhirnya menyampaikannya, namun juga aku sadari bahwa upaya yang beliau lakukan sungguh tidak sedikit.

Mengatakan minal ‘aidin atau berbuat pengampunan tak selalu menjadi tugas ringan untuk setiap individu. Untuk beberapa pihak, itu hanyalah prosedur. Tetapi, bagi kelompok lainnya, ini merupakan pertarungan jiwa yang cukup rumit. (Goleman, 1995)

Di bidang psikologi, mengajukan permohonan maaf serta memberi pengampunan—dalam konteks ini berarti mengucap “minal ‘aidin”—memiliki dampak besar pada kesejahteraan emosi seseorang. Studi menunjukkan bahwa individu yang dapat minta maaf secara jujur biasanya memiliki ikatan sosial yang lebih baik dan kadar stres yang lebih rendah. (Worthington & Scherer, 2004)

Idul Lebaran merupakan saat di mana banyak orang berusaha meningkatkan kualitas hubungannya dengan sesama. Di dalam agama Islam, permohonan pengampunan serta memberikan ampun menjadi praktek yang sangat disarankan. Istilah “maaf” tidak hanya sebagai kata namun juga simbol kerelaan hati dan upaya untuk mengoreksi kesalahan diri sendiri. (Al-Ghazali, 2016)

Tetapi, tidak semua individu menyampaikan emosi mereka dengan metode yang sama. Beberapa dapat bercerita dengan mudah, sementara lainnya membutuhkan waktu ekstra hanya untuk mengucapkan satu kata. Seringkali kita melupakan bahwa masing-masing dari kita punya gaya unik tersendiri dalam mengekspresikan kejujuran.

Sesudah kejadian tersebut terlewati, saya pun mengambil waktu untuk berpikir. Seberapa sering kita mendesak orang lain agar minta maaf sesuai dengan kemauan kita? Kami ingin mereka membicarakan hal-hal banyak dan menerangkan segala sesuatunya, lupa bahwa baginya, hanya sekadar mengucapkan permohonan maaf sudah menjadi upaya yang cukup sulit.

Ingatan saya muncul tentang suatu studi yang menjelaskan jika orang-orang bertipe introvert cenderung merasakan tantangan saat harus mengekspresikan emosinya lewat kata-kata. Meski begitu, hal tersebut bukan berarti mereka kurang memiliki kedalaman perasaan. (Cain, 2012)

Saat sang adik menyampaikan “minal ‘aidin”, walaupun pendek, saya paham ini mencerminkan kejujuran hatinya. Saya memutuskan untuk tidak menuntut agar ia berbicara lebih lanjut, sebab saya sadar bahwa dalam kesenjaannya terdapat emosi yang sulit dinyatakan lewat perkataan.

Memperbaiki hubungan melalui pengampunan dan minta maaf tak sekadar terletak pada pilihan kalimat, namun lebih kepada saling mengerti antar sesama. Yang utama bukanlah betapa panjangnya ucapan permintaan maaf tersebut, tapi sejauh mana niat yang tulus tersirat dalam setiap kata.

Idulfitri kali ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa tiap individu punya cara unik untuk menyampaikan emosinya. Ada yang merelakan dengan berkata banyak hal, namun ada juga yang hanya butuh senyum serta sepatah kata saja.

Ketika saya menyaksikan adik saya meninggalkan rumah usai mengucapkan “minal ‘aidin”, rasaku itu menjadi cara komunikasinya yang paling indah. Tak diperlukan banyak ucapan; di dalam hatinya, semua telah disampaikan.

Itu saja sudah lebih dari cukup.

Salah satu tradisi yang umum di daerah saya, atau bisa jadi di berbagai tempat lainnya, ialah menyampaikan selamat Idul Fitri serta permintaan pengampunan secara sederhana. “Minal ‘aidin,” tanpa harus mendetail menjadi, “wal faizin, mohon maaf lahir batin.” Kesan tersebut telah cukup dipahami oleh semua orang meskipun tidak ada penjelasan tambahan.