Banjir 1 Meter Landa Bogor dan Sukabumi, Tanggul Jebol dan Sampah Jadi Penyebab

SUDUTBOGOR – Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi di Kota Bogor pada Sabtu 9 Agustus 2025 sore hari, mengakibatkan saluran air di Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal meluap dan menyebabkan banjir dengan ketinggian mencapai satu meter.

Banjir semakin membesar setelah bendungan yang berada di wilayah tersebut pecah. Akibatnya, puluhan rumah di kawasan tersebut terendam air.

Read More

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko menyampaikan bahwa banjir terjadi akibat saluran air meluap dan tanggul retak di wilayah tersebut karena curah hujan tinggi.

“Analisis kami, bendungan pecah sehingga air rembesan masuk ke jalan,” katanya, Minggu 10 Agustus 2025.

Namun, saat ini air mulai berkurang. Penduduk yang sebelumnya mengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing.

Rumah rusak

Di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, puluhan rumah mengalami kerusakan akibat angin kencang yang disertai hujan badai.

Kepala Kecamatan Cigombong RE Irwan Somantri menyampaikan, setidaknya terdapat 40 rumah yang mengalami kerusakan. Kerusakan paling parah terjadi pada rumah warga Desa Cisalada dan Tugujaya. “Dua desa ini yang paling terkena dampak,” ujarnya.

Ia mengatakan, selain angin kencang, tanah longsor juga terjadi di Desa Tugujaya. Namun, ia belum mendapatkan informasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan pada rumah.

“Kami masih mengawasi data yang masuk, belum sepenuhnya, kemungkinan data seluruhnya akan masuk ke kami pada siang ini,” ujarnya.

Akibat sampah

Sementara itu, sekitar 21 keluarga yang tinggal di 18 rumah di Kampung Ciseureuh RT 01 RW 01 Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, harus meninggalkan tempat tinggalnya akibat banjir yang terjadi pada malam Sabtu, 9 Agustus 2025. Banjir terjadi setelah wilayah Kota Sukabumi diguyur hujan lebat sejak sore hari.

Berdasarkan data sementara yang dikumpulkan BPBD Kota Sukabumi, dari 21 keluarga yang terkena dampak, terdapat 8 balita dan 4 orang tua lanjut usia yang harus dievakuasi. Ketinggian air diperkirakan mencapai 60 hingga 100 sentimeter.

Anggota Satgas PB BPBD Kota Sukabumi Sam’an Holoman Lubis yang diwawancarai di lokasi menyampaikan bahwa petugas piket menerima laporan banjir sekitar pukul 19.00 dan langsung berangkat ke tempat kejadian. Dalam kondisi hujan deras dan banjir, katanya, petugas melakukan evakuasi tiga anak yang terjebak di tengah genangan air.

“Kami juga membantu warga membersihkan tumpukan sampah agar banjir segera berhenti. Hingga malam Sabtu, air mulai turun. Pada pagi hari Minggu, petugas bersama warga melakukan pembersihan sisa-sisa material sampah dan lumpur yang terbawa oleh banjir,” ujar Sam’an.

Untuk keamanan, katanya, balita dan lansia yang terkena dampak dievakuasi ke aula kelurahan sebagai tempat sementara. Warga lainnya memilih untuk berpindah ke rumah kerabat atau tetangga yang tidak terkena dampak. Tidak ada bangunan yang roboh. Namun, beberapa rumah memang tergenang lumpur,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi Novian Rahmat Taufik menyampaikan, banjir diduga disebabkan oleh individu masyarakat yang membuang batang pohon dan potongan bambu ke Sungai Ciseureuh sehingga menyebabkan saluran air tersumbat. Ia juga mengajak aparat setempat untuk memberikan sanksi tegas kepada siapa pun yang membuang sampah ke sungai.

Bantuan

Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengunjungi area yang terkena dampak banjir pada hari Minggu, 10 Agustus 2025, guna memastikan proses penanganan darurat berlangsung cepat. Bobby menyampaikan bahwa pemerintah melalui BPBD telah segera bertindak sejak malam kejadian, dengan bantuan Dinas Sosial dan komunitas setempat.

“BPBD sudah sangat cepat merespons dan luar biasa, dibantu oleh Dinas Sosial, hadir di sini untuk memberikan bantuan. Bantuan yang diberikan mencakup tempat tidur, selimut, beras, bahan makanan, serta perlengkapan khusus untuk balita. Pembersihan telah dimulai di setiap rumah warga yang terdampak, termasuk penyiraman dan pembersihan lumpur sisa banjir,” katanya.

Bobby menyampaikan, salah satu penyebab banjir di lokasi ini adalah tumpukan sampah di hulu sungai. Titik banjir di Ciseureuh menjadi yang paling parah dibandingkan tempat lain. Meskipun demikian, kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi dengan intensitas sebesar itu di kawasan tersebut. “Ini yang selama ini kita khawatirkan, mengingat imbauan dari Pak Menteri Lingkungan Hidup, sampah menjadi prioritas utama dalam penanganan negara bersama seluruh kepala daerah. Kita akan sama-sama membuat kebijakan agar masyarakat bisa mengelola sampah dari rumah tangganya terlebih dahulu. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di TPA, tetapi juga bisa menjadi bencana yang mungkin saja melebihi kemampuan kita semua,” katanya.

Bobby menganggap hal yang paling utama adalah menciptakan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Sebagai tindakan pencegahan, pemerintah akan memberikan himbauan kepada masyarakat, baik melalui surat edaran maupun video agar lebih mudah dipahami.

Ia juga mengajak masyarakat untuk membuat lubang biopori di sekitar lingkungannya, serta meminta para pengusaha menyediakan tempat sampah di depan toko masing-masing, serta meningkatkan pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul yang bekerja sama dengan Kabupaten Sukabumi.

“Jika sampah dibuang sembarangan, akhirnya menumpuk di sungai dan menyebabkan banjir. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama, kerja sama, serta menjaga kebersihan lingkungan agar bencana serupa tidak terjadi lagi di masa depan,” ujar Bobby.