
Peran Ayam Buras dalam Perekonomian dan Ketahanan Pangan Jawa Barat
Ayam buras atau ayam kampung merupakan salah satu komoditas unggulan di Jawa Barat. Selain menjadi sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, ayam buras juga berperan penting dalam mendukung perekonomian peternak kecil di daerah pedesaan. Populasi dan produksi ayam buras yang stabil menjadi indikator utama bagi ketahanan pangan daerah, terutama dalam sektor peternakan rakyat.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat tahun 2022, populasi ayam buras tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Data tersebut menunjukkan bahwa beberapa daerah memiliki populasi jauh lebih besar dibandingkan daerah lain, menandakan adanya konsentrasi sentra peternakan di wilayah-wilayah tertentu.
Berikut adalah daftar daerah penghasil ayam buras terbesar di Jawa Barat tahun 2022, lengkap dengan total populasi dan pembagiannya berdasarkan jenis kelamin:
Kabupaten Cianjur – 5.138.450 Ekor
Kabupaten Cianjur menempati peringkat pertama dengan total populasi ayam buras mencapai 5.138.450 ekor, terdiri dari 2.264.244 ekor jantan dan 2.874.206 ekor betina. Kawasan pedesaan Cianjur memiliki lahan luas dan iklim ideal untuk peternakan ayam kampung. Peternakan di wilayah ini sebagian besar dikelola oleh masyarakat dalam skala kecil hingga menengah. Hasil produksinya tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasok ke daerah sekitar, termasuk Jabodetabek.Kabupaten Bogor – 2.045.254 Ekor
Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Bogor dengan total 2.045.254 ekor ayam buras, terdiri dari 1.049.644 jantan dan 994.610 betina. Bogor dikenal memiliki aktivitas peternakan yang beragam karena letaknya yang strategis dekat dengan ibu kota. Permintaan daging dan telur ayam kampung dari pasar modern maupun tradisional di wilayah Jabodetabek menjadi pendorong utama perkembangan sektor ini.Kabupaten Sukabumi – 1.677.470 Ekor
Kabupaten Sukabumi memiliki total populasi ayam buras mencapai 1.677.470 ekor, dengan 405.260 ekor jantan dan 1.271.210 ekor betina. Peternakan ayam buras di Sukabumi didominasi oleh sistem peternakan rakyat, di mana masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk beternak. Selain untuk konsumsi sendiri, hasil ternak juga dijual ke pasar lokal dan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi banyak keluarga.Kabupaten Bandung – 1.658.894 Ekor
Kabupaten Bandung menempati posisi keempat dengan populasi 1.658.894 ekor, terdiri dari 714.726 jantan dan 944.168 betina. Daerah seperti Pangalengan, Ciparay, dan Majalaya menjadi sentra utama peternakan ayam kampung di Bandung. Peternakan di wilayah ini sebagian besar dikelola oleh rumah tangga yang memproduksi daging dan telur ayam buras untuk konsumsi lokal dan pasar restoran.Kabupaten Garut – 1.537.981 Ekor
Kabupaten Garut memiliki populasi ayam buras sebesar 1.537.981 ekor, terdiri dari 506.671 jantan dan 1.030.310 betina. Tradisi beternak ayam kampung sudah lama melekat di masyarakat Garut. Selain ayam pedaging dan petelur, sebagian peternak juga mengembangkan ayam lokal untuk bibit dan hobi (ayam aduan). Kondisi geografis yang didominasi pegunungan membuat Garut ideal untuk pengembangan peternakan rakyat.
Analisis dan Kesimpulan
Data menunjukkan bahwa Kabupaten Cianjur menjadi daerah dengan populasi ayam buras terbesar di Jawa Barat tahun 2022, disusul oleh Bogor, Sukabumi, Bandung, dan Garut. Sebagian besar populasi ayam buras didominasi oleh betina, menandakan bahwa banyak peternak fokus pada produksi telur dan pembiakan. Tren ini memperlihatkan bahwa sektor peternakan rakyat masih menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan, terutama dalam mendukung kebutuhan pangan lokal.
Ke depan, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat dukungan terhadap peternak, mulai dari penyediaan bibit unggul, pelatihan manajemen ternak, hingga akses pemasaran digital. Dengan langkah-langkah tersebut, populasi ayam buras di Jawa Barat tidak hanya meningkat, tetapi juga berkontribusi lebih besar pada ketahanan pangan dan kesejahteraan petani unggas lokal.
