Ahli: Teknologi Baterai Mobil Listrik Masih Perlu Dikembangkan



JAKARTA – Perkembangan mobil listrik di Indonesia maupun dunia terus mengalami kemajuan pesat, ditandai dengan semakin beragamnya model dan merek yang tersedia di pasar. Namun, di balik tren ini, masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, khususnya dalam hal teknologi baterai yang menjadi komponen utama kendaraan listrik.

Menurut Yannes Martinus Pasaribu, seorang pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), teknologi baterai mobil listrik saat ini masih berada pada tahap pengembangan. Ia menyatakan bahwa inovasi yang ada belum mencapai titik kematangan seperti teknologi mesin pembakaran internal yang telah berkembang selama puluhan tahun.

Yannes mencontohkan bagaimana evolusi teknologi baterai terjadi cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa pada awal munculnya mobil listrik modern, teknologi baterai yang digunakan masih relatif konvensional dan memiliki keterbatasan dalam efisiensi serta keselamatan.

“Di era awal, Tesla masih menggunakan baterai silinder biasa. Tiba-tiba BYD memperkenalkan baterai blade yang lebih hemat ruang dan lebih aman,” ujarnya kepada SudutBogor saat ditemui di Bali, belum lama ini.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa arah pengembangan baterai mobil listrik masih sangat dinamis. Setiap produsen berlomba-lomba menghadirkan inovasi baru untuk meningkatkan daya jelajah, efisiensi ruang, hingga aspek keselamatan baterai.

Namun, menurut Yannes, kemajuan tersebut juga menegaskan bahwa teknologi baterai masih terus berevolusi dan belum mencapai bentuk final. Ia menilai, inovasi yang sebelumnya dianggap tidak mungkin justru bisa terwujud seiring peningkatan skala produksi dan riset yang berkelanjutan.

“Artinya teknologi terus berkembang, yang dulu juga enggak mungkin karena harganya terlalu mahal. Begitu scaling up, dengan skala massal, dengan R&D yang tangguh, jadi baterai blade. Makanya saya bilang teknologi baterai belum matang,” kata Yannes.

Beberapa jenis baterai yang dikembangkan saat ini meliputi Nickel Mangan Cobalt (NMC), Lithium Ferro Phosphate (LFP), Sodium-ion, hingga Solid-State. Namun, ke depannya, baterai LFP diprediksi akan menjadi baterai yang paling banyak digunakan pada mobil listrik.

Yannes menambahkan, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri otomotif. Di satu sisi, konsumen perlu memahami bahwa teknologi mobil listrik masih akan terus berubah. Di sisi lain, produsen dan regulator dituntut untuk menyiapkan standar keselamatan serta edukasi yang sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut.

Tantangan dalam Pengembangan Baterai Mobil Listrik

  • Kemajuan teknologi yang cepat

    Perkembangan teknologi baterai mobil listrik terjadi dengan sangat cepat, sehingga sulit untuk menentukan bentuk akhir dari teknologi ini. Setiap produsen berusaha memberikan inovasi terbaik mereka, baik dalam hal efisiensi, keselamatan, maupun kapasitas penyimpanan energi.

  • Kebutuhan untuk riset dan pengembangan yang berkelanjutan

    Untuk mencapai kematangan teknologi, diperlukan investasi besar dalam riset dan pengembangan. Dengan skala produksi yang meningkat, biaya produksi dapat turun, sehingga teknologi yang sebelumnya dianggap mahal bisa menjadi lebih terjangkau.

  • Standar keselamatan yang harus disesuaikan

    Dengan semakin banyaknya variasi baterai, diperlukan standar keselamatan yang lebih ketat agar produk yang dipasarkan aman bagi pengguna dan lingkungan.

  • Edukasi konsumen

    Konsumen perlu diberikan pemahaman yang benar tentang teknologi baterai mobil listrik. Hal ini penting untuk menghindari kesalahpahaman dan meningkatkan kepercayaan terhadap kendaraan listrik.

Peluang di Tengah Tantangan

Meski masih ada tantangan, pengembangan baterai mobil listrik juga membuka peluang baru bagi industri otomotif. Dengan adanya inovasi, produsen dapat menciptakan kendaraan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Selain itu, adanya berbagai jenis baterai seperti LFP dan Solid-State memberikan fleksibilitas dalam pemilihan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing produsen. Dengan demikian, industri otomotif tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.