BogorMedia, JAKARTA — Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengungkapkan pola kenaikan harga bawang putih yang terjadi setiap menjelang Lebaran. Lonjakan ini diduga disebabkan oleh keterlambatan impor yang dilakukan secara sengaja oleh importir.
Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir menyatakan bahwa fenomena ini telah terjadi berulang kali dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, Tomsi meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengambil langkah tegas agar pola serupa tidak terulang kembali, sehingga harga bawang putih tetap stabil menjelang Lebaran.
“Bapak [Kemendag] harus melihat pelajaran dari tahun ke tahun. Setiap mau Lebaran, mereka tidak melakukan impor, itu namanya modus operandi. Tujuannya apa? supaya harganya bisa naik,” ujar Tomsi dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026, Senin (19/1/2026).
Tomsi menegaskan bahwa importir yang memiliki izin dan kuota impor harus bertanggung jawab atas jadwal pengiriman. Menurutnya, pemerintah seharusnya menjelaskan mengapa impor tidak dilakukan tepat waktu, padahal izin dan kuota impor telah tersedia.
“Ini harus ada ketegasan pemerintah, kenapa dia tidak mau impor, kenapa dia terlambat impor, sedangkan dia punya izin impor, dia punya kuota impor,” tambahnya.
Dia juga menyoroti proses pengiriman bawang putih impor yang memakan waktu sekitar tiga minggu. Namun, hingga saat ini belum ada pengajuan izin impor.
“Terus mau sampainya kapan? Mau nunggu puasa dulu? Lihat tahun-tahun sebelumnya, dia sampai setelah Lebaran. Setelah Lebaran harganya turun,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag Nawandaru Dwi Putra menyatakan bahwa sekitar 90%–95% bawang putih masih bergantung pada impor, yang utamanya dari China sebagai produsen utama.
Menurut Nawandaru, pihaknya telah berkoordinasi dengan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag untuk mempercepat realisasi impor. Pasalnya, hingga 15 Januari 2026 belum ada realisasi impor bawang putih.
Dia menjelaskan, proses inspeksi oleh surveyor juga menjadi faktor belum adanya pengiriman. Sementara itu, pengiriman bawang putih dari China diperkirakan membutuhkan waktu 2–3 minggu.
“Apabila dalam minggu ini ada importir yang sudah melakukan pembelian atau transaksi dan pengiriman, diperkirakan akan tiba menjelang atau di minggu pertama periode Ramadan atau puasa,” tambahnya.
Per 16 Januari 2026, Kemendag mencatat harga eceran nasional bawang putih Kating mencapai Rp39.300 per kilogram, atau naik 2,34%. Sementara itu, harga bawang putih Honan tercatat Rp39.800 per kilogram atau naik 2,84% dibandingkan bulan sebelumnya.
Adapun, harga bawang putih di China pada Desember 2025 berada di kisaran 8,88 yuan per kilogram atau US$1,26 per kilogram (setara Rp20.935 per kilogram). Namun, harga bawang putih di China pada awal 2025 mengalami penurunan meski harga saat ini masih relatif tinggi dibandingkan harga selama lima tahun terakhir.
