Apakah Greenland Pernah Alami Gempa Bumi?

Geologi Greenland yang Unik



Greenland tidak hanya dikenal sebagai pulau terbesar di dunia, tetapi juga memiliki sejarah geologi yang sangat kompleks dan kuno. Wilayah ini bukanlah daratan statis, melainkan salah satu wilayah dengan fondasi geologis paling tua di Bumi. Batuan yang ada di sini berusia hampir 4 miliar tahun, lengkap dengan bukti awal kehidupan dan proses tektonik purba. Lapisan es yang menutupi sebagian besar wilayahnya justru menyembunyikan struktur geologi yang sangat penting bagi ilmu kebumian.

Dulu, Greenland pernah menjadi bagian dari satu benua besar bersama Amerika Utara sekitar 1,6 miliar tahun lalu. Pada masa itu, proses pelipatan pegunungan telah selesai, dan perisai batuan telah terangkat serta mengalami erosi. Perkembangan geologi selanjutnya terjadi di wilayah tepi, tempat batuan yang lebih baru masih terawetkan di Greenland Utara, Greenland Timur, dan sebagian wilayah Greenland Barat bagian tengah.

Selain itu, wilayah ini juga didominasi oleh pembentukan cekungan sedimen di sepanjang tepi Perisai Prakambrium. Endapan sedimen setebal 5-10 kilometer terakumulasi di area tersebut, dan kini terawetkan di wilayah pesisir. Ketebalan terbesar endapan ini berada di lepas pantai pada landas kontinen Greenland.

Sejarah Gempa di Greenland



Meski jarang terjadi, Greenland pernah mengalami gempa bumi dalam catatan seismologi modern. Salah satu peristiwa yang mencatatkan kejadian gempa besar adalah pada tahun 1933. Berdasarkan data dari pemerintah Kanada, gempa ini tidak menyebabkan kerusakan apa pun karena lokasi episentrumnya berada di lepas pantai dan jumlah penduduk di sekitarnya sangat sedikit.

Wilayah barat laut Teluk Baffin, timur laut Pulau Baffin, hingga saat ini masih tergolong aktif secara seismik. Namun, sejak tahun 2000-an, Greenland mengalami percepatan aliran, penipisan, dan kemunduran gletser pesisirnya. Peristiwa pelepasan gunung es berukuran miliar meter kubik sering terjadi.

Menurut Institut de physique du globe de Paris, pelepasan lapisan es memicu gaya kontak horizontal pada gletser selama beberapa menit, yang kemudian memicu gelombang seismik. Peristiwa ini bisa menghasilkan gempa bumi bermagnitudo 5 yang terdeteksi oleh jaringan seismologi global. Antara tahun 1993–2013, sebanyak 400–500 gempa bumi yang berasal dari sekitar sepuluh gletser di Greenland berhasil terdeteksi.

Apakah Greenland Berisiko Gempa di Masa Depan?



Greenland memiliki risiko gempa di masa depan, meskipun bukan berasal dari aktivitas tektonik klasik seperti zona subduksi. Pemanasan global yang mempercepat pencairan es meningkatkan aktivitas glasial, termasuk percepatan aliran gletser, penipisan lapisan es, dan semakin seringnya peristiwa calving—proses lepasnya bongkahan es besar dari ujung gletser ke laut.

Selain gempa glasial, Greenland juga berpotensi mengalami fenomena seismik lain akibat perubahan iklim, seperti longsoran bawah laut atau runtuhan es besar yang menghasilkan gelombang seismik dari jarak jauh. Meski gempa ini tidak sebesar gempa tektonik, peningkatan frekuensinya menjadi indikator bahwa sistem gletser Greenland sedang mengalami tekanan signifikan.

Meski sebagian besar gempa di Greenland bukan gempa tektonik besar seperti di wilayah Cincin Api, gempa yang umum terjadi adalah gempa glasial—fenomena seismik yang dipicu oleh pergerakan gletser dan pelepasan gunung es. Fakta ini menunjukkan bahwa Greenland tetap memiliki aktivitas seismik yang berkaitan dengan dinamika es dan perubahan iklim.