Kritik Tanggul Laut, BRIN Ciptakan Solusi TTMF

Inovasi Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) dari BRIN untuk Melindungi Wilayah Pesisir



Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan inovasi terbaru berupa Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) sebagai respons terhadap ancaman kerusakan wilayah pesisir yang semakin kompleks. Teknologi ini dirancang untuk mengatasi masalah abrasi, banjir rob, dan kenaikan muka air laut yang selama ini menjadi tantangan di kawasan pesisir Indonesia.

Inovasi ini dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN sejak 2022. Dinar Catur Istiyanto, Perekayasa Ahli Madya BRIN, menjelaskan bahwa pengembangan TTMF didasari oleh kebutuhan akan pelindung pantai yang tangguh tetapi minim dampak lingkungan. Ia menekankan bahwa TTMF menjadi solusi yang lebih efektif dibandingkan metode lama yang memanfaatkan tanggul laut tipe urukan dengan kelemahan signifikan dari material karena mengandalkan timbunan pasir dan batu dalam volume besar.

“Ketersediaan sumber materialnya harus diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan,” ujar Dinar dalam keterangan resminya pada Rabu, 18 Februari 2026.

Perbedaan Desain TTMF

Perbedaan utama antara TTMF dan metode tradisional terletak pada ukuran dan desain. TTMF menggunakan konsep dinding tegak yang jauh lebih ramping. Struktur ini menggunakan material beton bertulang yang dicetak dalam sistem blok modular. Konsep ini memungkinkan tanggul disusun seperti kepingan lego, sehingga proses konstruksinya menjadi lebih fleksibel dan tidak memakan banyak tempat di kawasan pesisir yang padat.

Dinar menjelaskan bahwa pendekatan modular dipilih agar sesuai dengan kemampuan alat berat yang tersedia di dalam negeri. “Blok-blok beton ini diproduksi di darat dengan berat yang disesuaikan dengan kapasitas crane nasional, sekitar 60 ton per blok, lalu disusun di lokasi. Dengan cara ini, konstruksi bisa berlangsung lebih cepat,” tambahnya.

Keunggulan TTMF

Sesuai namanya, TTMF tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari serangan gelombang dan tanggul waduk kedap air, tetapi juga dirancang untuk mengemban fungsi tambahan. Salah satu inovasi penting dalam desain ini adalah integrasi sistem penangkap energi gelombang laut tipe Oscillating Water Column (OWC).

Dalam sistem OWC, gelombang laut diarahkan masuk ke dalam rongga khusus di bagian struktur tanggul. Pergerakan naik-turun air akibat gelombang akan menekan dan menghisap udara, yang kemudian dimanfaatkan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. “Prinsipnya, energi gelombang yang selama ini hanya diredam, kini bisa ditangkap dan dikonversi menjadi energi listrik,” kata Dinar.

BRIN masih mengkaji berbagai variasi desain OWC agar sesuai dengan karakter gelombang di perairan Indonesia, khususnya Pantura Jawa yang memiliki tinggi gelombang relatif rendah. Meski demikian, generasi awal desain TTMF dengan sistem penangkap energi gelombang rendah telah terdaftar sebagai paten di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum pada 2025.

Selain itu, bagian atas tanggul dirancang cukup kuat untuk menopang infrastruktur jalan raya, sehingga satu struktur dapat menggabungkan fungsi perlindungan pantai, pengendalian banjir, transportasi, dan energi terbarukan sekaligus.

Material dan Pengembangan Berkelanjutan

Dari sisi material, TTMF dirancang menggunakan beton bertulang yang mengacu pada standar SNI untuk bangunan bendungan, bangunan air, serta bangunan pantai dan pelabuhan. Namun, sejalan dengan agenda net zero carbon emission, BRIN juga mengembangkan riset material alternatif dengan memanfaatkan limbah industri, seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batubara.

“Sebagian besar limbah industri itu sebenarnya tidak berbahaya, tetapi menjadi masalah jika hanya ditumpuk. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengganti pasir atau sebagian semen, maka dampak lingkungannya jauh lebih kecil,” ujar Dinar.