Masalah Stabilitas Jaringan 5G di Indonesia
Pengguna layanan jaringan 5G di Indonesia masih mengeluhkan ketidakstabilan yang terjadi dalam penggunaannya. Beberapa pengguna sering mengalami perpindahan dari jaringan 5G ke 4G secara tiba-tiba, yang berdampak pada kenyamanan pengguna. Hal ini menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan teknologi 5G yang semakin berkembang.
Dhinkis, seorang pengguna 5G di Tangerang, mengungkapkan bahwa meskipun ada perbedaan signifikan dalam kecepatan antara jaringan 4G dan 5G, stabilitas jaringan tetap menjadi masalah utama. Menurutnya, perpindahan jaringan yang tidak stabil sering kali menyebabkan gangguan saat melakukan aktivitas yang membutuhkan latensi rendah, seperti bermain gim daring (online game).
“Kalau tidak pakai 5G, ping saat main gim bisa langsung naik ke angka 160 hingga 299 ms,” ujarnya. Dengan adanya jaringan 5G, ia merasa bahwa latensi bisa lebih rendah, namun perpindahan jaringan yang tidak terkontrol membuatnya lebih memilih menggunakan jaringan 4G saat berada di luar ruangan.
Pemilihan Jaringan Berdasarkan Kebutuhan
Dhinkis juga menilai bahwa penggunaan jaringan 5G saat ini masih belum memberikan nilai yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Ia mengatakan bahwa cakupan area yang belum merata membuatnya lebih nyaman menggunakan jaringan 4G. “Hanya dipakai buat streaming lagu di Spotify. Itu pun 5G tidak merata di Jabodetabek, jadi kalau di luar ruangan lebih sering dapat 4G+,” tambahnya.
Selain itu, Dhinkis juga menyampaikan bahwa penggunaan jaringan 5G terbatas pada situasi tertentu, seperti saat sedang dalam ruangan atau di daerah yang sudah memiliki cakupan yang cukup baik. Di luar ruangan, ia lebih memilih menggunakan jaringan 4G karena ketersediaan yang lebih stabil.
Perkembangan Penggelaran Jaringan 5G
Sebelumnya, persaingan dalam penggelaran jaringan 5G di Indonesia meningkat pesat pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024. PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatatkan peningkatan signifikan dalam jumlah Base Transceiver Station (BTS) 5G. Pada akhir 2025, Indosat mengoperasikan 6.872 unit BTS 5G, yang merupakan lonjakan besar dibandingkan 107 unit BTS 5G pada tahun 2024. Selain itu, Indosat juga memperkuat jaringan 4G dengan menambah sekitar 18.000 BTS baru.
Sementara itu, Telkomsel juga mencatatkan lonjakan dalam penggelaran jaringan 5G. Jumlah BTS 5G Telkomsel meningkat dari sekitar 975 BTS pada akhir 2024 menjadi 5.300 BTS pada akhir 2025.
Rencana Pengembangan Jaringan 5G oleh XL
PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), yang dikenal sebagai XL, juga mengklaim telah menyelimuti 33 kota dengan jaringan 5G. Rencananya, pada tahun ini, XL akan meluncurkan jaringan 5G di 88 kota. Mereka juga ingin menghadirkan layanan XL Ultra 5G+ yang mampu memberikan pengalaman internet yang lebih cepat dan stabil.
Dengan peningkatan jumlah BTS 5G dan rencana ekspansi yang agresif, industri telekomunikasi di Indonesia terus bergerak menuju penggunaan teknologi 5G yang lebih luas. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan upaya terus-menerus dalam meningkatkan stabilitas jaringan dan memastikan cakupan yang merata.
