5 Fakta Menarik Masjid Saint Petersburg, Terbesar di Eropa Saat Itu

Sejarah dan Keunikan Masjid Saint Petersburg

Masjid mungkin hanya dianggap sebagai tempat untuk beribadah oleh sebagian orang. Namun, jika kita melihat lebih dalam, banyak masjid di dunia yang berdiri tegak sebagai simbol sejarah yang hidup dan mahakarya arsitektur yang memanjakan mata. Salah satu negara yang menyimpan keindahan tersembunyi tersebut adalah Rusia. Di tengah dinginnya kota Saint Petersburg, berdiri megah Masjid Saint Petersburg, sebuah bangunan yang juga dikenal sebagai Masjid Biru, yang pesonanya mampu menyihir siapa pun yang melintas di depannya.

Lantas, apa yang membuat masjid ini begitu istimewa hingga sempat menjadi yang terbesar di Eropa pada masanya? Mari kita telusuri fakta-fakta unik dan sejarah menyentuh di balik dinding mosaik birunya dalam artikel berikut ini!

Butuh perjuangan panjang untuk mendirikan Masjid Saint Petersburg



Keinginan umat Muslim untuk memiliki tempat ibadah di Saint Petersburg sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1798, ketika ratusan personel militer Muslim mengajukan permohonan pembangunan masjid dan lahan pemakaman. Meski beberapa arsitek ternama sempat merancang proyek tersebut pada awal tahun 1800-an, tetapi rencana ini tidak kunjung terwujud. Selama puluhan tahun, komunitas Muslim yang didominasi oleh bangsa Tatar hanya bisa beribadah di lokasi sementara karena berbagai kendala perizinan dan penolakan dari pejabat setempat.

Titik terang baru muncul pada tahun 1882 setelah Mufti Selim-Giray Tevkelev mendapatkan izin resmi dari pemerintah. Untuk mewujudkan pembangunan tersebut, dibentuklah komite khusus guna mengumpulkan dana dari seluruh penjuru Rusia. Perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil berkat sumbangan besar dari Sayyid Abdul-Ahad Khan, seorang Amir Bukhara, yang bersedia menanggung biaya pembangunan. Dukungan finansial tersebut menjadi kunci utama berdirinya Masjid Saint Petersburg yang megah setelah melalui penantian selama lebih dari satu abad.

Perpaduan seni Timur Tengah dan teknologi modern



Lokasi Masjid Biru dipilih secara khusus di pusat kota Saint Petersburg, tepatnya di seberang Benteng Peter dan Paul yang bersejarah. Pembangunan ini mendapat restu langsung dari Kaisar Nicholas II pada tahun 1907, di mana peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1910 untuk menghormati 25 tahun masa pemerintahan Abdul-Ahad Khan dari Bukhara. Proyek megah ini merupakan hasil kolaborasi para ahli, mulai dari arsitek Nikolai Vasilyev hingga pengawasan ketat dari akademisi Alexander Ivanovich. Fasad bangunannya dirancang sangat cantik dengan perpaduan ornamen khas Timur Tengah dan mosaik berwarna biru kehijauan yang menjadi ciri khas ikonik masjid ini.

Tidak hanya mengandalkan keindahan visual, masjid ini juga dibangun dengan teknologi modern pada masanya, seperti sistem pemanas uap, ventilasi udara, dan pencahayaan listrik. Sentuhan seni di bagian langit-langit, kubah, hingga menara merupakan hasil karya tokoh-tokoh hebat, termasuk Ilyas Murza Boragansky, seorang dosen asal Tatar Krimea yang membuat sketsa fasad, serta kaligrafer Osman Akchokrakly. Perpaduan teknologi dan seni kaligrafi ini menjadikan Masjid Biru sebagai bangunan yang nyaman sekaligus bernilai seni tinggi.

Orientasi kiblat yang akurat



Meskipun dibangun pada awal abad ke-20 tanpa bantuan teknologi GPS modern, penentuan arah kiblat Masjid Saint Petersburg memiliki tingkat presisi yang sangat tinggi. Arsitek Nikolai Vasilyev bekerja sama dengan para ahli untuk memastikan bahwa posisi mihrab, atau ceruk tempat imam memimpin salat, menghadap tepat ke arah Ka’bah di Mekkah. Hal ini merupakan pencapaian teknis yang luar biasa, mengingat tata letak jalanan di sekitar lokasi masjid di pusat kota Saint Petersburg sebenarnya cukup miring dan tidak sejajar secara alami dengan arah kiblat.

Dalam merancang bangunan ini, Vasilyev menyelaraskan arsitektur klasik Timur Tengah, khususnya inspirasi dari makam Gur-e Amir di Uzbekistan, dengan prinsip dasar bangunan Islam. Meskipun data mengenai perhitungan geometris spesifiknya terbatas, arah kiblat diwujudkan dengan mengarahkan struktur utama bangunan ke arah tenggara menuju Mekkah. Ketelitian dalam perencanaan ini memastikan bahwa fungsi spiritual masjid tetap terjaga dengan sempurna di tengah lingkungan perkotaan Rusia yang kompleks.

Sempat menjadi yang terbesar di Eropa



Saat resmi dibuka pada tahun 1913, Masjid Saint Petersburg mencatatkan sejarah sebagai masjid terbesar di Eropa di luar wilayah Turki. Bangunan megah ini memiliki menara setinggi 49 meter dan kubah mencapai 39 meter, yang sanggup menampung hingga 5.000 jemaah sekaligus. Dalam pelaksanaan ibadahnya, masjid ini menerapkan pemisahan area berdasarkan jenis kelamin, di mana jemaah laki-laki menempati lantai bawah dan jemaah perempuan berada di lantai atas.

Sayangnya, aktivitas ibadah di masjid ini sempat terhenti total akibat penutupan paksa selama masa Perang Dunia II. Kondisi sunyi ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya masjid dibuka kembali untuk umum pada tahun 1956 di tengah era Perang Dingin. Pembukaan kembali ini menandai babak baru bagi komunitas Muslim di Saint Petersburg untuk kembali menjalankan kewajiban agama mereka di bangunan bersejarah tersebut.

Jejak diplomasi Presiden Soekarno yang mengembalikan fungsi masjid



Pada masa rezim Komunis Uni Soviet, hampir semua tempat ibadah dari berbagai agama ditutup dan dialihfungsikan, termasuk Masjid Saint Petersburg yang dijadikan gudang peralatan medis sejak tahun 1940. Kondisi ini berubah berkat peran besar Presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat berkunjung ke kota tersebut pada tahun 1956. Soekarno yang menyadari bahwa bangunan megah tersebut adalah sebuah masjid segera mengajukan permohonan kepada pemimpin tertinggi Uni Soviet, Nikita Khrushchev, agar gedung itu dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah.

Meskipun pemerintah Soviet saat itu sangat anti-agama, tetapi permintaan Soekarno akhirnya dikabulkan. Hanya dalam waktu sepuluh hari setelah kunjungan tersebut, Masjid Biru resmi diserahkan kembali kepada komunitas Muslim setempat. Hingga kini, umat Islam di Rusia sangat menghormati dan berterima kasih atas keberanian Soekarno, karena berkat diplomasinya, salah satu masjid terindah di dunia ini bisa kembali bergema dengan suara azan dan aktivitas ibadah.

Untuk menjaga keindahan mosaik dan strukturnya yang ikonik, restorasi besar-besaran masjid pun dilakukan pada tahun 1980 agar tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Dan keberadaan Masjid Saint Petersburg pun menjadi bukti nyata bahwa seni, sejarah, dan toleransi dapat bersatu dalam satu harmoni yang indah bagi dunia.