Ciri Khas Berkik Gunung Amami
Berkik gunung amami (Scolopax mira) adalah salah satu burung kecil dengan bentuk kepala yang sangat unik. Burung ini memiliki ciri khas berupa kepala yang relatif kecil, mata yang agak mundur ke belakang, serta paruh yang sangat panjang. Selain itu, sepasang kaki mereka juga tergolong panjang, sehingga membuat penampilan burung ini terlihat sangat berbeda dari burung-burung lainnya.
Bulu berkik gunung amami didominasi oleh warna cokelat muda dan tua, dengan sedikit warna putih pada bagian perut dan sekitar pipi. Corak garis dan bintik hitam juga menghiasi bulu burung ini. Dalam hal ukuran, panjang tubuhnya sekitar 36 cm dengan rentang sayap antara 19 hingga 22 cm dan bobot sekitar 400 hingga 500 gram. Pada kesempatan ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang hal-hal menarik yang dimiliki oleh berkik gunung amami.
Peta Persebaran dan Habitat Alami
Berkik gunung amami merupakan hewan endemik dari Jepang. Data Zone by Birdlife menyebutkan bahwa secara spesifik, burung mungil ini hanya ditemukan di sekitar Kepulauan Nansei Shoto yang meliputi Pulau Amami, Kakeroma, Tokunoshima, Okinawa, dan Tokashiki. Luas area persebaran mereka cukup kecil, yaitu sekitar 12.200 km persegi saja.
Untuk habitat alami, berkik gunung amami lebih suka tinggal di daerah perbukitan. Di sana, mereka hidup di hutan sub tropis dengan daun lebar yang cenderung lembab. Terkadang, mereka juga berpindah ke pesisir pantai atau padang rumput sekitar bukit dan dataran rendah untuk mencari makanan. Jika dekat dengan kawasan pertanian manusia, berkik gunung amami juga diketahui turut menghampiri area tersebut.
Makanan Favorit dan Cara Memperolehnya

Berkik gunung amami termasuk hewan nokturnal, sehingga seluruh aktivitas, termasuk mencari makan, dilakukan setelah Matahari terbenam. Tokunoshima World Heritage Conservation Center melansir bahwa makanan utama burung ini adalah cacing tanah dan serangga yang ada di tanah. Paruh panjang mereka memainkan peran penting dalam upaya memperoleh makanan.
Paruh berkik gunung amami sangat sensitif terhadap gerakan di dalam tanah. Mereka akan mencari bagian tanah yang mudah digali dan berpotensi mengandung mangsa. Setelah itu, paruh mulai menggali sambil merasakan keberadaan makanan. Jika terasa ada gerakan, burung ini tidak perlu mengangkat kepala untuk mengambil target. Sebab, ada celah kecil pada ujung paruh mereka yang memudahkan proses menangkap mangsa.
Karena berburu pada malam hari, berkik gunung amami mengandalkan indera penglihatan. Selain itu, berburu pada malam hari membantu mereka mengurangi risiko ditangkap predator karena corak tubuh yang bisa berbaur sempurna dengan lingkungan hutan saat gelap.
Kehidupan Sosial

Biasanya, burung kecil cenderung hidup secara berkelompok. Namun, perilaku berkik gunung amami justru berbeda. Mereka lebih cenderung hidup soliter, terutama di luar musim kawin atau ketika sedang mengurus anak-anak yang baru menetas. Artinya, mereka selalu ditemukan mencari makan sendirian di tengah gelapnya malam.
Meski begitu, berkik gunung amami memiliki suara vokal yang khas. Dilansir dari Bird Research News, jantan biasanya menghasilkan suara serak seperti “vu-vu”, “chee-chee”, atau “geee” untuk memanggil betina di sekitar. Ada juga suara “gwe-e” yang dikeluarkan sebelum terbang.
Sistem Reproduksi

Musim kawin bagi berkik gunung amami berlangsung antara bulan Maret hingga Juli. Spesies ini diduga sebagai hewan poligini, artinya jantan dapat kawin dengan beberapa betina yang berbeda. Meski demikian, belum diketahui apakah ada ritual kawin khusus yang dilakukan oleh berkik gunung amami. Yang jelas, burung ini punya kebiasaan pindah ke arah selatan pulau menjelang musim kawin.
Setelah kawin, berkik gunung amami akan membuat sarang sederhana dari tumpukan daun yang diletakkan di atas tanah. Dalam satu musim kawin, betina dapat menghasilkan 2 hingga 4 butir telur. Telur-telur tersebut akan menjalani masa inkubasi selama 20 hingga 30 hari sebelum akhirnya menetas. Anak berkik gunung amami membutuhkan waktu sebulan untuk mencapai ukuran dewasa dan sudah bisa hidup mandiri.
Status Konservasi

Dalam catatan IUCN Red List, status konservasi berkik gunung amami masuk dalam kategori rentan punah (Vulnerable). Meski demikian, tren populasi mereka tergolong stabil. Diperkirakan ada sekitar 2,5 hingga 10 ribu individu yang masih tersebar di sepanjang peta persebaran mereka.
IUCN Red List menyebutkan bahwa pengenalan predator asing, seperti garangan jawa (Herpestes javanicus), ke pulau-pulau selatan Jepang ternyata menghancurkan populasi burung ini. Dulunya, berkik gunung amami tidak memiliki predator besar yang aktif memburu setiap saat seperti garangan jawa. Padahal, awalnya garangan jawa diperkenalkan untuk mengatasi masalah hama ular habu dan tikus hitam. Namun, predator ini justru turut menghancurkan populasi lokal.
Penyebaran garangan jawa ini sebenarnya sudah mulai dikontrol sejak tahun 2002. Akan tetapi, ada predator asing lain yang turut mengancam berkik gunung amami, yakni anjing dan kucing liar. Selain predator asing, burung mungil ini juga terancam oleh kehilangan habitat akibat ekspansi lahan yang dilakukan manusia. Semoga saja kondisi populasi mereka bisa membaik di masa yang akan datang.
