Dosen dan Mahasiswa Deli Husada Terapkan Teknologi Irigasi di Gayo Lues



ACEH – Setelah bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah Aceh pada akhir 2025, ratusan hektare lahan pertanian terkena dampak karena kerusakan pada sistem irigasi. Di Dusun Telusung, Desa Pers Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tangguh Bencana sempat menghadapi ancaman gagal panen akibat aliran air sawah terputus.

Untuk mengatasi situasi ini, tim mahasiswa bersama dosen Institut Kesehatan Deli Husada melakukan program pemberdayaan masyarakat dengan menerapkan teknologi irigasi alternatif berbasis pompa air portable dan reservoir penampung air. Program ini bertujuan untuk memulihkan akses air irigasi sebagai langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan desa.

Pompa air portable digunakan untuk mengalirkan air dari sumber air Sungai terdekat ke lahan persawahan, sedangkan reservoir berfungsi untuk menstabilkan distribusi air ke setiap petakan sawah agar pengairan lebih merata dan efisien. Aliah, salah satu petani anggota Kelompok Tani Tangguh Bencana, mengungkapkan bahwa sebelum adanya bantuan tersebut, para petani kesulitan mengairi sawah karena saluran irigasi rusak akibat banjir bandang.

“Setelah bencana, sawah kami sulit diairi karena saluran rusak. Dengan adanya pompa dan bak penampung ini, kami bisa kembali menyelamatkan padi yang telah ditanam dan berharap hasil panen membaik,” ujarnya.

Selain menghadirkan teknologi, program ini juga memperkuat kelembagaan kelompok tani melalui pelatihan pengoperasian alat, penyusunan jadwal distribusi air, serta pembentukan sistem pengelolaan dan iuran perawatan secara kolektif. Hasilnya, lebih dari 70 persen lahan sawah yang sebelumnya terdampak kini berhasil diselamatkan dan kembali memasuki masa panen.

Pendekatan Teknologi dalam Pemulihan Pertanian

Program ini mencerminkan pendekatan inovatif dalam pemulihan pertanian pasca-bencana. Penggunaan teknologi seperti pompa air portable dan reservoir penampung air memberikan solusi praktis yang mudah diakses oleh petani. Teknologi ini tidak hanya membantu dalam mengatur distribusi air, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan air yang sangat penting dalam kondisi darurat.

  • Pompa air portable:
  • Digunakan untuk mengalirkan air dari sumber air terdekat ke lahan persawahan.
  • Membantu mengatasi masalah aliran air yang terputus akibat kerusakan saluran irigasi.

  • Reservoir penampung air:

  • Berfungsi menstabilkan distribusi air ke setiap petakan sawah.
  • Memastikan pengairan lebih merata dan efisien, sehingga meningkatkan produktivitas tanaman.

Pelatihan dan Penguatan Kelembagaan

Selain teknologi, program ini juga fokus pada penguatan kelembagaan kelompok tani. Pelatihan pengoperasian alat, penyusunan jadwal distribusi air, serta pembentukan sistem pengelolaan dan iuran perawatan secara kolektif menjadi bagian penting dari program ini. Hal ini memastikan bahwa petani dapat mengelola sumber daya secara mandiri dan berkelanjutan.

  • Pelatihan pengoperasian alat:
  • Memberikan keterampilan kepada petani dalam menggunakan pompa air dan reservoir.
  • Meningkatkan kemampuan teknis dan kemandirian petani.

  • Penyusunan jadwal distribusi air:

  • Membantu mengatur waktu pengairan agar lebih efisien dan merata.
  • Menghindari pemborosan air dan memastikan semua lahan mendapat akses yang sama.

  • Sistem pengelolaan dan iuran perawatan:

  • Membentuk mekanisme pengelolaan yang transparan dan partisipatif.
  • Menjamin perawatan alat dan infrastruktur secara berkala.

Hasil yang Diraih

Hasil dari program ini sangat signifikan. Lebih dari 70 persen lahan sawah yang sebelumnya terdampak kini berhasil diselamatkan dan kembali memasuki masa panen. Ini menunjukkan bahwa pendekatan teknologi dan penguatan kelembagaan dapat menjadi solusi efektif dalam menghadapi bencana dan memulihkan sektor pertanian.

Dengan kombinasi antara inovasi teknologi dan partisipasi aktif masyarakat, program ini memberikan harapan baru bagi petani di daerah terdampak bencana. Kedepannya, kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam membangun ketahanan pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan.