Nancy Wake, Pahlawan Perlawanan Paling Dicari Selama Perang Dunia II

Kehidupan Nancy Wake, Pejuang Perlawanan yang Berani dan Tangguh

Nancy Wake adalah salah satu tokoh paling menonjol dalam sejarah Perang Dunia II. Meskipun ia adalah seorang perempuan, ia memainkan peran penting dalam Gerakan Perlawanan Prancis. Dikenal dengan julukan The White Mouse, Nancy Wake tidak hanya menjadi kurir, tetapi juga melakukan berbagai tindakan yang mengguncang kekuasaan Nazi.

Masa Kecil yang Kelam

Nancy Wake lahir di Wellington, Selandia Baru, pada 30 Agustus 1912. Saat berusia 4 tahun, ia pindah ke Australia bersama keluarganya. Ayahnya, Charles, meninggalkan keluarga tanpa memberi tahu mereka, sehingga ibunya, Ella, harus membesarkan enam anak sendirian. Nancy, yang merupakan anak terkecil, mengalami kesulitan hidup karena ayahnya menjual rumah keluarga tanpa memberi tahu siapa pun. Hal ini membuat keluarga tidak harmonis dan akhirnya Nancy melarikan diri dari rumah saat usianya 16 tahun.

Selama dua tahun, ia tinggal dan bekerja dengan nama samaran di Sydney. Meskipun kembali ke keluarga setelah dewasa, situasi kembali tidak stabil ketika bibinya meninggal dan mewariskan uang kepada Nancy. Uang itu digunakan untuk pergi ke luar negeri, awalnya ke Amerika Serikat, lalu ke London, dan akhirnya ke Paris pada tahun 1930-an.

Karier sebagai Jurnalis

Sebagai jurnalis, Nancy Wake mulai menulis untuk surat kabar Hearst Corporation. Ia mencoba meyakinkan eksekutif surat kabar bahwa ia menguasai bahasa Mesir kuno. Meski hanya menulis omong kosong, Nancy berhasil bekerja di sana. Di perjalanan ke Wina, Austria, ia menyaksikan Gestapo menganiaya orang-orang Yahudi, sebuah pengalaman yang mengubah pandangan Nancy terhadap rezim Nazi.

Pada tahun 1936, Nancy menikah dengan Henri Fiocca, seorang pengusaha kaya. Mereka tinggal di Marseille, Prancis selatan. Namun, pada tahun 1940, Nazi dan Italia menginvasi Prancis, memaksa pemerintah Prancis untuk menyerah.

Bergabung dengan Gerakan Perlawanan Prancis

Dengan dikuasainya Prancis oleh Nazi, Nancy Wake terpaksa berada di wilayah musuh. Namun, hal ini justru memotivasinya untuk bergabung dengan jaringan perlawanan sebagai kurir. Ia membawa banyak orang melewati wilayah yang dikuasai Nazi menuju tempat aman di Spanyol. Perjalanan ini penuh tantangan, termasuk serangan dari pasukan Nazi atau Vichy.

Nancy menggunakan gender dan status sosialnya untuk lolos dari situasi berbahaya. “Seorang perempuan bisa keluar dari banyak masalah yang tidak bisa diatasi oleh seorang laki-laki,” kenangnya. Dia mengubah seksisme itu menjadi keuntungan, bahkan menggunakan penampilannya untuk memikat petugas di pos pemeriksaan saat mengantarkan dokumen-dokumen penting.

Diburu oleh Gestapo

Gestapo akhirnya memberi julukan agen yang masih belum teridentifikasi itu sebagai The White Mouse. Situasi semakin tegang ketika Gestapo menjanjikan hadiah 5 juta franc untuk menangkap perempuan misterius itu. Nancy akhirnya mendapat informasi dari seorang pemilik kafe yang ramah. Meskipun enggan meninggalkan suaminya, Nancy tahu kalau situasinya sudah sangat genting.

Pelariannya melewati Pyrenees bukanlah perjalanan yang mudah. Perjalanan Nancy beberapa kali terhalang oleh cuaca buruk. Ia pun sempat ditahan oleh otoritas Vichy. Setelah diselamatkan oleh rekan pejuang perlawanan, Nancy masih harus berjuang untuk menyeberangi perbatasan yang dijaga ketat, berjalan di malam hari, menghadapi infeksi penyakit kulit dan badai salju yang menghambat perjalanannya menuju tempat aman.

Bergabung dengan Unit Khusus Inggris

Setelah melarikan diri dari Prancis pada tahun 1943, Nancy Wake meninggalkan Spanyol dan akhirnya tiba di Inggris. Namun, ia tidak berniat untuk tinggal di sana selama perang berlangsung. Nancy bergabung dengan Special Operations Executive (S.O.E.), sebuah organisasi sabotase dan spionase yang didirikan pada tahun 1940. Awalnya, ia ditolak oleh kelompok perlawanan Prancis Merdeka yang dipimpin oleh Charles de Gaulle, tetapi akhirnya percaya bahwa Nancy cocok untuk menjadi agen rahasia.

Selama pelatihan S.O.E., Nancy menunjukkan keterampilan menembak dan kemauannya untuk bertempur jarak dekat. Pelatihan tersebut mengharuskannya untuk meninju meja. Kesempatan itu datang ketika Nancy menjadi bagian dari tim S.O.E. yang terjun payung ke Prancis saat negara itu dikuasai Nazi pada April 1944. Misi mereka adalah untuk memperkuat Gerakan Perlawanan dan menghambat Nazi menjelang invasi D-Day yang direncanakan pada bulan Juni.

Mengaku Pernah Membunuh Musuh

Saat bekerja sebagai anggota kelompok Perlawanan Prancis yang dikenal sebagai Maquis, Nancy Wake benar-benar berjuang di tengah perang brutal yang sedang berlangsung. Nancy mengakui bahwa dia tidak setuju dengan pembunuhan. Namun, dia harus melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Nancy mengaku pernah melumpuhkan seorang penjaga Jerman di sebuah pabrik senjata, menggunakan tangan kosong untuk melawan musuh, keterampilan yang dia pelajari dalam pelatihan S.O.E.

Menyerang Markas Jerman

Selama bekerja dengan Maquis, Nancy Wake bertanggung jawab mengatur pengiriman senjata melalui udara oleh Sekutu dan mendistribusikan senjata serta perbekalan lainnya di antara para pejuang Perlawanan. Namun, ia juga pernah terlibat langsung dalam aksi tersebut, seperti ketika ia berpartisipasi dalam serangan terhadap markas besar Jerman di Montluçon. Nancy mengaku melemparkan granat ke dalam gedung, dan berhasil melarikan diri sebelum granat itu meledak.

Memanfaatkan dan Melawan Stereotip Gender

Sebelum terpaksa melarikan diri dari Prancis, Nancy menyadari bahwa gendernya bisa menjadi aset bagi pekerjaannya di Gerakan Perlawanan. “Saya melihat seorang perwira Jerman di kereta atau di suatu tempat, kadang-kadang berpakaian sipil, mereka bisa dikenali dengan mudah,” katanya. “Jadi, alih-alih menimbulkan kecurigaan, aku akan menggoda mereka, meminta korek api dan mengatakan korek apiku kehabisan bahan bakar.”

Bersepeda Ratusan Kilometer

Salah satu prestasi Nancy Wake yang paling terkenal selama masa perang adalah bersepeda. Setelah serangan Jerman merusak peralatan komunikasi bagi upaya Perlawanan, Nancy memperbaiki kembali kontak dan menjaga agar pesan tetap berjalan. Selama tiga hari, ia bersepeda sejauh 500 kilometer melewati wilayah musuh. Nancy bahkan sampai tidur di tumpukan jerami dan tempat-tempat terpencil agar tak ditangkap.

Medali dan Biaya Hidup

Setelah perang, Nancy menerima banyak medali dan penghargaan. Namun, ia tidak terlalu antusias dengan medali-medali tersebut. Pada tahun 90-an, ia menjual sebagian besar koleksi medalinya seharga 156.000 juta dolar atau setara dengan Rp2,6 triliun, yang ia gunakan untuk biaya hidupnya. Pada tahun 2001, Nancy pindah dari Australia ke London, dan tinggal di Hotel Stafford untuk menghabiskan sisa hidupnya di sana. Biaya hidup Nancy ditanggung oleh Pangeran Charles hingga ia meninggal pada usia 98 tahun.