Inisiatif Meta Menggunakan Kecerdasan Buatan dalam Bisnis Internal
Meta, perusahaan teknologi besar yang terkenal dengan platform media sosial seperti Facebook dan Instagram, kini tengah menghadapi perhatian dari berbagai pihak di Eropa. Hal ini terkait rencana mereka untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai proses bisnis internal. Salah satu program utama yang menjadi sorotan adalah Capacity Modeling Initiative (MCI), sebuah inisiatif yang dinilai memiliki potensi untuk mengumpulkan informasi karyawan dalam skala yang lebih luas daripada yang biasanya diberikan oleh perusahaan.
Program MCI pertama kali diperkenalkan pada April lalu sebagai alat untuk memantau cara karyawan berinteraksi dengan perangkat komputer. Sistem ini mencatat berbagai aktivitas seperti pergerakan kursor, klik, hingga penggunaan menu dalam aplikasi. Data yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk membantu pengembangan agen AI yang mampu menjalankan tugas-tugas administratif secara otomatis. Saat ini, Meta telah menerapkan sistem tersebut pada perangkat kerja karyawan di Amerika Serikat dan memantau aktivitas pada lebih dari 200 aplikasi maupun situs web.
Namun, sejumlah dokumen internal menunjukkan bahwa jenis data yang terkumpul tidak hanya terbatas pada aktivitas penggunaan perangkat saja. Dalam sesi diskusi dengan karyawan, Meta mengakui bahwa percakapan atau email yang melibatkan pegawai di luar Amerika Serikat tetap berpotensi terekam apabila komunikasi tersebut dilakukan dengan rekan kerja yang berada di AS. Hal ini memicu kekhawatiran dari kalangan pegiat perlindungan data di Eropa.
Juru bicara Meta, Dave Arnold, menjelaskan bahwa tujuan utama MCI adalah memahami pola interaksi pengguna dengan komputer, bukan memantau isi yang muncul di layar. Menurutnya, perusahaan telah melakukan evaluasi menyeluruh terkait risiko privasi dan berupaya memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Meta juga telah memberi pemberitahuan kepada karyawan di luar AS mengenai kemungkinan data mereka ikut terekam ketika berkomunikasi dengan kolega yang berbasis di Amerika Serikat.
Namun, sejumlah pakar hukum privasi menilai persoalan tersebut jauh lebih kompleks. Kleanthi Sardeli, pakar hukum dari organisasi perlindungan privasi NOYB, menilai bahwa pengumpulan data yang berkaitan dengan pekerja Uni Eropa, meskipun tidak dilakukan secara langsung, tetap dapat menimbulkan persoalan hukum berdasarkan aturan GDPR.
“Data komunikasi awal dihasilkan untuk kontrak kerja dan ketenagakerjaan, jadi menggunakannya untuk melatih model AI dapat melampaui tujuan awal dari proses pengumpulan data,” kata Kleanthi Sardeli seperti dikutip dari Reuters.
Sementara itu, Komisi Perlindungan Data Irlandia yang menjadi regulator utama Meta di kawasan Eropa menyatakan telah menerima pemberitahuan mengenai MCI. Berdasarkan penjelasan perusahaan, pengumpulan data dari karyawan Uni Eropa bukanlah sasaran utama program tersebut. Meski begitu, hingga kini regulator belum memberikan keputusan resmi terkait kesesuaian inisiatif tersebut dengan regulasi perlindungan data yang berlaku.
Kekhawatiran juga muncul dari internal perusahaan. Sejumlah unggahan karyawan menunjukkan bahwa akses MCI terhadap data kemungkinan lebih luas dibanding penjelasan sebelumnya. Informasi seperti alamat situs yang dikunjungi, isi clipboard, hingga pola penggunaan komputer disebut dapat direkam. Analisis yang beredar di lingkungan internal bahkan menyebutkan bahwa data tersebut berpotensi digunakan untuk membangun profil perilaku karyawan secara rinci sebagai bahan pelatihan AI.
Menurut Johnny Ryan, Direktur Penegakan Hukum di Dewan Kebebasan Sipil Irlandia, persoalan ini melampaui urusan internal Meta semata. Ia menilai kasus tersebut menjadi gambaran dari tantangan yang lebih besar terkait penggunaan data pekerja di era kecerdasan buatan.
“Kontroversi saat ini mencerminkan pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan pasar tenaga kerja karena perusahaan teknologi semakin banyak menggunakan data karyawan untuk membangun sistem AI yang mampu menggantikan manusia di banyak pekerjaan,” kata Ryan.
Di tengah perlombaan industri teknologi dalam mengembangkan AI yang semakin mandiri, polemik MCI memperlihatkan dilema yang kian nyata antara kebutuhan inovasi dan perlindungan privasi. Perdebatan yang muncul tidak lagi sekadar membahas kemampuan AI, melainkan juga batas sejauh mana perusahaan boleh mengumpulkan dan memanfaatkan data untuk mewujudkan teknologi tersebut.

