Pertumbuhan Ekonomi DIY yang Tertahan di Tengah Perlambatan Sektor Pariwisata
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi meskipun menghadapi perlambatan di beberapa sektor, termasuk pariwisata dan ekspor. Dalam laporan hasil pengendalian kinerja triwulan ketiga tahun 2025, Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor serta percepatan realisasi anggaran agar pembangunan dapat berjalan optimal.
Pertumbuhan ekonomi DIY secara kumulatif mencapai 5,30 persen (C2C) hingga triwulan ketiga tahun 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa sejumlah indikator menunjukkan perlambatan, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi perkotaan.
“Pertumbuhan ekonomi DIY secara kumulatif tumbuh 5,30 persen, lebih tinggi dibandingkan semester I tahun 2024. Namun demikian, perlu diantisipasi bersama bahwa pertumbuhan kumulatif Kota Yogyakarta sampai semester I tahun 2025 mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya yang selalu tumbuh di atas 5 persen,” ujar Ni Made saat memaparkan expose hasil pengendalian kinerja triwulan ketiga 2025 dalam Rakordal Pembangunan Daerah Triwulan III Tahun 2025 bertema ‘Transformasi Pariwisata DIY untuk Mendukung Perekonomian Daerah’, Kamis (30/10/2025), di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan.
Salah satu penyebab perlambatan adalah adanya pembatasan atau pembatalan sejumlah kegiatan pasca Instruksi Presiden I tahun 2025. Selain itu, Kabupaten Kulon Progo juga mencatat perlambatan ekonomi dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat tumbuh di atas 4 persen. Meski demikian, inflasi di wilayah DIY masih tergolong terkendali.
“Secara keseluruhan angka inflasi DIY masih dalam batas terkendali. Namun, tren kenaikan hingga pertengahan tahun perlu diwaspadai agar tidak mengganggu kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat,” ujar Ni Made.
Perkembangan Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian DIY mengalami penurunan kunjungan wisatawan hingga Agustus 2025. Penurunan itu terutama dialami oleh wisatawan nusantara, meskipun wisatawan mancanegara masih menunjukkan peningkatan.
“Pengembangan pariwisata hingga Agustus 2025 menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan yang didominasi wisatawan asal Malaysia, Italia, dan Singapura. Tetapi jika dibandingkan dengan periode Januari sampai Agustus 2024, kunjungan wisatawan turun 7,36 persen,” katanya.
“Kunjungan wisatawan nusantara juga menurun, dengan destinasi terbanyak masih berada di Kabupaten Sleman.”
Meski terjadi perlambatan di sektor pariwisata, nilai ekspor DIY tercatat naik 9,23 persen, sementara impor meningkat 10,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah daerah berupaya menjaga keseimbangan ekspor-impor agar tidak menekan defisit neraca perdagangan daerah.
Realisasi Kinerja dan Proyek Strategis
Made menyampaikan bahwa capaian kinerja Pemerintah Daerah DIY pada triwulan ketiga sebagian besar menunjukkan hasil positif. Enam indikator kinerja masih perlu diselesaikan hingga akhir tahun, sementara realisasi keuangan mengalami deviasi kecil akibat penundaan transfer dana pusat.
“Realisasi keuangan sampai triwulan ketiga mengalami deviasi karena efisiensi belanja, proses SPJ, dan transfer DAK-DAU yang tertunda. Padahal, realisasi fisik relatif optimal karena adanya surplus kinerja, sehingga terjadi deviasi minus 0,19,” jelasnya.
Ia menyoroti pula sejumlah proyek strategis yang masih perlu percepatan, antara lain pembangunan Gedung DPRD DIY, TPST Piyungan, dan Gedung Psikiatri Terpadu RS Grhasia.
“Perlu menjadi perhatian dan monitor intensif agar progresnya selesai tepat waktu sampai akhir tahun 2025,” ujar Sekda.
Dana Keistimewaan dan Bantuan Keuangan Khusus
Terkait realisasi Dana Keistimewaan (Danais), hingga triwulan ketiga tahun ini telah terealisasi 96,21 persen secara fisik dan 81,84 persen secara keuangan. Urusan kebudayaan mencatat capaian tertinggi dalam aspek fisik, sementara urusan kelembagaan unggul dalam aspek keuangan.
“Efisiensi Danais yang telah teridentifikasi akan dioptimalkan dalam usulan redesign ke-2. Capaian fisik tertinggi terdapat pada Kabupaten Gunungkidul dan capaian keuangan tertinggi di Kabupaten Sleman,” ungkapnya.
Selain itu, Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kalurahan telah direalisasikan pada 392 kalurahan dengan total 715 paket program strategis gubernur. Namun, realisasi fisik masih tertinggal di angka 58,10 persen, sehingga perlu percepatan agar seimbang dengan serapan keuangan yang sudah mencapai 99,65 persen.
Visi Masa Depan Pariwisata DIY
Transformasi pembangunan pariwisata DIY ke depan akan diarahkan menuju pariwisata yang berkualitas, berdaya saing internasional, inklusif, dan berkelanjutan. Hal ini selaras dengan visi pembangunan jangka panjang DIY 2045: maju, sejahtera, dan berkelanjutan, dijiwai kebudayaan dan keistimewaan.
Rekomendasi untuk Menjaga Pertumbuhan Ekonomi
Dalam penutup laporannya, Made menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi daerah, antara lain memperkuat koordinasi lintas sektor, mempercepat reformasi kalurahan, serta optimalisasi aset daerah.
“Kita perlu memperkuat kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha melalui forum CSR atau TSLP untuk pembiayaan pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan fasilitas publik. Selain itu, optimalisasi aset daerah serta revisi peraturan gubernur tentang tarif perlu dilakukan untuk memperluas sumber pendapatan daerah,” ujar Made.
Made menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut bertujuan menjaga akuntabilitas, mempercepat realisasi program, serta memastikan pembangunan berjalan inklusif dan berkelanjutan.
