Perum BULOG bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo memperluas pengembangan budidaya jamur berbasis pemanfaatan limbah sekam padi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Program ini tidak hanya mendorong ekonomi desa, tetapi juga menjadi upaya pengurangan limbah hasil pengolahan padi yang berpotensi mencemari lingkungan.
Dekan Sekolah Vokasi UNS, Herman Saputro, menjelaskan bahwa pengembangan budidaya jamur tiram di Desa Jekani ini merupakan lokasi kedua setelah program ini dinilai sukses di Kecamatan Masaran. Ia menekankan bahwa limbah dari pabrik beras atau penggilingan padi, khususnya sekam, selama ini sering terbuang. Padahal, limbah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku baglog. Sekitar 50 persen baglog yang dikembangkan berasal dari limbah sekam.
Herman menjelaskan, satu baglog sekam padi mampu menghasilkan sekitar 0,4 kilogram jamur dalam sekali panen dan dapat dipanhan hingga empat sampai enam kali. Selain bernilai ekonomi, pemanfaatan sekam padi ini juga dinilai membantu mengurangi penumpukan limbah pertanian di wilayah sekitar penggilingan padi.
Di masa mendatang, melalui kerja sama ini, juga terbuka peluang pengembangan varian jamur lingzhi (lingsi). Herman mengatakan UNS memperoleh referensi pengembangan jamur tersebut saat melakukan kunjungan ke pusat riset di China pada November 2025 lalu. Menurutnya, jamur lingzhi memiliki nilai ekonomi tinggi karena dibutuhkan untuk herbal, kosmetik, dan konsumsi. Dari hasil kajian, media tanam yang digunakan untuk jamur tiram juga memungkinkan digunakan untuk jamur lingzhi.
Selain jamur tiram, UNS bersama Bulog dan kelompok tani setempat juga merencanakan pengembangan komoditas pertanian lain yang ramah lingkungan. Herman menyebut UNS siap mendukung pengembangan benih melon, cabai rawit, serta komoditas lain yang dapat memperkuat pertanian berkelanjutan di wilayah Mondokan.
Direktur SDM dan Transformasi Perum BULOG, Sudarsono Hardjosoekarto, mengatakan Program Bulog Industry Ecosociosystem bertujuan mengoptimalkan produk samping pengolahan padi agar tidak menjadi limbah, tapi menjadi sumber ekonomi baru yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Program ini mendorong terciptanya lapangan kerja, peningkatan keterampilan, serta kesejahteraan masyarakat, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari limbah pengolahan padi.
Program tersebut difokuskan pada tiga pilar utama, yakni pendidikan, lingkungan, dan pengembangan Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi dengan Program Studi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi UNS, dengan sasaran Kelompok Tani Jamur Tiram Makmur Mondokan yang sempat turun aktivitas ekonominya akibat pandemi Covid-19.
Program Industry Ecosociosystem di Desa Jekani mencakup pelatihan dan pendampingan budidaya jamur, pembangunan kumbung berkapasitas 6.500 baglog, pengadaan alat steamer, serta penerapan teknologi Smart Kumbung berbasis Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi produksi dan penggunaan sumber daya. Sudarsono menambahkan, Bulog berharap tercipta ekosistem agroindustri desa yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan, serta dapat direplikasi di wilayah lain.
Selain pengembangan budidaya jamur, Bulog juga menyalurkan bantuan air bersih melalui Program TJSL BULOG Peduli Air Bersih dan Sanitasi berupa pembangunan sumur bagi warga Desa Jekani. Selama hampir dua dekade, sekitar 300 kepala keluarga di wilayah tersebut mengalami keterbatasan akses air bersih, yang turut berdampak pada kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Inisiatif Berkelanjutan dalam Pengembangan Pertanian
Bulan-bulan terakhir telah menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pola pengelolaan limbah pertanian, khususnya sekam padi. Melalui inisiatif yang dikerjakan oleh Perum BULOG dan UNS, penggunaan sekam padi sebagai bahan baku dalam budidaya jamur telah memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal. Ini adalah contoh nyata dari upaya pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Beberapa aspek penting dalam proyek ini antara lain:
- Peningkatan Ekonomi Desa: Budidaya jamur tiram dan rencana pengembangan jamur lingzhi memberikan peluang usaha yang stabil bagi masyarakat setempat. Hal ini berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
- Pengurangan Limbah Pertanian: Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan baku baglog mengurangi jumlah limbah yang menumpuk di sekitar penggilingan padi. Ini juga membantu menjaga kualitas lingkungan sekitar.
- Pengembangan Teknologi: Penerapan teknologi Smart Kumbung berbasis IoT menunjukkan bahwa pengembangan pertanian tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada efisiensi dan keberlanjutan.
- Pendidikan dan Pelatihan: Proyek ini melibatkan pelatihan dan pendampingan kepada petani, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menjalankan usaha budidaya jamur secara mandiri.
Penyediaan Akses Air Bersih
Selain budidaya jamur, program BULOG juga fokus pada penyediaan akses air bersih bagi masyarakat Desa Jekani. Pembangunan sumur yang dilakukan merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas hidup warga setempat. Sebelumnya, sekitar 300 kepala keluarga mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih, yang berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Dengan adanya sumur, masyarakat kini memiliki sumber air yang lebih aman dan layak.
Kesimpulan
Proyek pengembangan budidaya jamur berbasis pemanfaatan limbah sekam padi di Desa Jekani, Sragen, merupakan contoh inovasi yang berdampak positif baik secara ekonomi maupun lingkungan. Kerja sama antara Perum BULOG dan UNS telah membuktikan bahwa limbah pertanian bisa diubah menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, program ini juga memberikan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat, serta memperbaiki akses air bersih. Semua ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dan kesejahteraan bisa dicapai melalui inisiatif yang tepat dan kolaborasi yang kuat.
