Masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Timur diminta untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya hujan lebat dalam beberapa jam ke depan. Prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa intensitas hujan akan meningkat akibat pengaruh bibit siklon tropis 96S.
Perkembangan Bibit Siklon Tropis 96S
Dalam analisis yang dilakukan pada Ahad malam, 28 Desember 2025, BMKG menyatakan bahwa bibit siklon 96S memberikan dampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Nusa Tenggara Barat dan Timur. Dampak ini diperkirakan akan berlangsung selama 24 jam ke depan. Selain hujan, masyarakat juga perlu memperhatikan potensi angin kencang yang bisa terjadi di dua wilayah tersebut.
Di laut, kondisi cuaca juga akan mengalami perubahan. Di Samudra Hindia bagian selatan Nusa Tenggara Timur, ombak tinggi dengan ketinggian antara 2,5 hingga 4,0 meter diprediksi akan terjadi. Sementara itu, gelombang tinggi kategori sedang (1,25 – 2,50 meter) akan muncul di beberapa wilayah perairan, seperti:
Perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur
Perairan selatan Pulau Bali hingga Pulau Timor
Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan
Laut Sawu
Bibit siklon tropis 96S mulai terbentuk tepat pada Hari Natal, yaitu 25 Desember 2025, di wilayah Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat. Pada Minggu malam lalu, posisinya terdeteksi di Samudra Hindia selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
BMKG memprediksi bahwa intensitas bibit siklon ini akan semakin kuat dalam beberapa jam ke depan. Pergerakannya diperkirakan akan menuju arah tenggara.
Pengaruh Bibit Siklon Tropis 98S
Selain 96S, BMKG juga melaporkan adanya bibit siklon tropis lainnya bernama 98S. Bibit siklon ini mulai terbentuk pada Sabtu pagi, 27 Desember 2025, di daratan Australia bagian utara. Namun, hingga kemarin malam, posisi 98S belum beranjak dan belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca maupun perairan di wilayah Indonesia.
Tips untuk Masyarakat
Masyarakat di daerah rawan banjir atau longsor disarankan untuk memantau informasi cuaca secara berkala. Jika terjadi hujan deras, sebaiknya hindari daerah dataran rendah dan jauhi aliran sungai. Untuk nelayan, diperlukan kewaspadaan ekstra karena kondisi laut yang tidak stabil.
Dengan adanya prediksi cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan iklim yang terjadi. Penyediaan perlengkapan evakuasi dan penguatan infrastruktur juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana.
