Pisang Epe, Rasa Legendaris Makassar yang Tak Pernah Hilang

Pisang Epe, Kuliner Tradisional yang Tetap Disukai

Pisang epe adalah salah satu kuliner tradisional khas Makassar yang masih bertahan hingga saat ini. Makanan yang terbuat dari pisang kepok ini memiliki cita rasa manis khas gula merah dan proses pengolahan yang sederhana. Karena itu, pisang epe menjadi favorit bagi wisatawan, terutama di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada sore hingga malam hari.

Pisang epe memiliki tekstur lembut setelah dipipihkan dan aroma harum akibat proses pembakaran menggunakan arang. Nama “pisang epe” berasal dari kata “epe” dalam bahasa Makassar yang berarti dipipihkan. Istilah ini merujuk pada teknik pengolahan pisang yang ditekan setelah dibakar.

Guru Tata Boga SMP Negeri 7 Mappakasunggu, Ahmad Darwis, menjelaskan bahwa proses pemipihan ini sejak dahulu menjadi ciri khas pisang epe sebagai kuliner tradisional masyarakat Makassar. Dulunya, pisang epe hanya disajikan dengan campuran gula merah cair. Namun, kini, seiring berkembangnya selera generasi muda, pisang epe hadir dengan berbagai variasi topping seperti keju, coklat, dan milo.

Hajir, penjual pisang epe legendaris di Makassar, mengaku telah menjual pisang epe sejak tahun 1998 di kawasan Pantai Losari. Ia menjelaskan cara membuat pisang epe, yaitu dengan memasak gula merah hingga mencair dan mengental agar menghasilkan rasa manis alami. Setelah itu, ia memilih pisang kepok (utti manurung) dengan tingkat kematangan yang pas. Pisang kemudian dikupas dan dibakar di atas arang selama kurang lebih 10 menit hingga matang merata. Setelah dibakar, pisang dipipihkan menggunakan alat khusus sebelum disiram gula merah dan ditambahkan topping sesuai permintaan pembeli.

Dulunya, topping hanya durian dan kelapa, tetapi kini lebih bervariasi mengikuti perkembangan zaman. Menurut Hajir, meski tren kuliner datang silih berganti, pisang epe tetap memiliki tempat tersendiri. “Dari tahun 90-an sampai sekarang tidak hilang. Tidak seperti makanan viral, cuma sebentar lalu hilang. Pisang epe ada terus, tidak hilang dimakan waktu,” tambahnya.

Penjual lainnya, Kevin, telah menjual pisang epe sejak 2010 dan membuka lapaknya di kawasan yang sama. Menurutnya, kualitas bahan menjadi faktor utama dalam pembuatan pisang epe. “Pisang kepoknya tidak boleh terlalu lembek dan tidak boleh terlalu keras. Harus pas,” ucap Kevin saat ditemui di Pantai Losari, Makassar. Ia juga menjelaskan bahwa topping pisang epe kini lebih modern. Namun baginya, gula merah tetap menjadi komponen utama, “supaya rasa aslinya tidak hilang,” jelasnya.

Pelanggan bernama Wanda, yang sudah menyukai pisang epe sejak masih sekolah dasar, mengaku rasa pisang epe tidak pernah berubah. “Rasanya enak, manis-manis pisang dan ada bau khasnya karena dibakar. Saya lebih suka yang original karena tidak terlalu manis,” katanya saat ditemui di Pantai Losari. Menurutnya, ciri khas pisang epe terletak pada proses pembakaran dan penggunaan gula merah. Sehingga ia berharap olahan tersebut tetap dipertahankan meski banyak varian baru bermunculan.

Ahmad Darwis kembali menegaskan bahwa pisang epe memiliki nilai budaya yang harus dijaga. “Pisang epe itu ciri khas orang Makassar. Kalau kita promosikan keluar provinsi, pasti dicari,” ujarnya saat diwawancarai pada 8 Desember 2025. Menurutnya, penggunaan arang dalam proses pembakaran tidak boleh digantikan dengan alat modern karena memengaruhi aroma dan keaslian rasanya. Ia juga menyarankan agar inovasi dilakukan secara seimbang. “Tidak boleh stagnan, tapi juga tidak boleh sampai hilang ciri khasnya. Variasi boleh, tapi rasa aslinya harus tetap ada,” jelasnya.

Ahmad juga menilai bahwa pelestarian pisang epe seharusnya tidak hanya berorientasi pada bisnis, melainkan pada identitas kuliner itu sendiri. “Orang yang makan harus tetap bisa merasakan ciri khas pisang epe,” ujarnya.

Dengan proses sederhana, bahan yang mudah ditemukan, serta rasa yang telah melewati lintas generasi, pisang epe menjadi salah satu kuliner yang berpotensi terus berkembang. Variasi topping dan inovasi kemasan dapat menjadi daya tarik baru bagi generasi saat ini, namun keaslian rasa tradisionalnya tetap menjadi hal utama yang membuat pisang epe bertahan hingga sekarang.