Pembersihan Sampah Kayu Banjir Bandang 24 Jam Nonstop

Proses Pembersihan Akibat Banjir Bandang di Aceh dan Sumatera Utara

Pembersihan tumpukan kayu dan material limbah akibat bencana banjir bandang yang terjadi di Aceh Tamiang, Aceh Utara, serta sejumlah daerah lain di Sumatera Utara terus berlangsung. Sampai hari Minggu, 28 Desember 2025, pekerjaan pembersihan tidak hanya menargetkan tumpukan kayu utama, tetapi juga fasilitas pendidikan dan lingkungan sekitar warga.

Salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang. Tim gabungan yang terdiri dari 80 personel UPT Kementerian Kehutanan, 80 personel TNI, dan 30 personel Polri melaporkan bahwa proses pembersihan telah mencapai progres 90 persen. Material kayu dan lumpur dipindahkan ke lokasi penampungan akhir menggunakan dump truck, serta dilakukan pemotongan kayu di Tempat Penumpukan Kayu (TPK).

Pekerjaan juga dilanjutkan pada malam hari dengan dukungan penerangan tambahan. “Tim gabungan telah menyelesaikan pembersihan 12 ruang belajar, dua ruang kantor guru, serta satu area tempat wudhu masjid, sekaligus membantu pembersihan rumah warga di sekitar lokasi terdampak,” ujar Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, dalam keterangan tertulis pada Senin, 29 Desember 2025.



Kayu yang menumpuk di Pesantren Darul Mukhlisin, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, 12 Desember 2025. Tempo/Ilham Balindra

Pembersihan di Kecamatan Langkahan

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pembersihan akses jalan dan permukiman warga terus dilanjutkan dengan dukungan enam unit ekskavator. Akses jalan di Desa Geudumbak bertambah sepanjang 200 meter, sehingga total jalur yang dapat dilalui kini mencapai 4,85 kilometer. Pembersihan fasilitas pendidikan juga dilakukan di SMPN 3 Langkahan dan SD Negeri 7 Langkahan.

Kegiatan Pembersihan di Sumatera Utara

Per hari yang sama, di Provinsi Sumatera Utara, kegiatan pembersihan dilaksanakan di Desa Aek Ngadol, Desa Garoga, dan Desa Huta Godang. Fokus utamanya adalah pemindahan kayu, pembersihan rumah warga, serta pengangkutan material lumpur. Kegiatan ini dilakukan secara terpadu bersama Satgas Pemda dan TNI, dengan dukungan 17 unit alat berat dan 14 unit dump truck dari Kemenhut, TNI, BNPB, BUMN, dan mitra perusahaan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci percepatan pemulihan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan pembersihan akan terus dilanjutkan dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan cuaca, termasuk rencana kerja lanjutan pada 29 Desember 2025. “Difokuskan pada pembersihan permukiman, pemotongan kayu di bantaran sungai, serta penguatan akses transportasi alat berat menuju lokasi pembuangan material,” katanya.

Strategi Pembersihan yang Efisien

Untuk memastikan efisiensi dan keberlanjutan pembersihan, tim gabungan mengadopsi strategi yang melibatkan berbagai instansi dan lembaga. Dengan adanya alat berat seperti ekskavator dan dump truck, proses pemindahan material menjadi lebih cepat dan efektif. Selain itu, penerangan tambahan pada malam hari memungkinkan operasi pembersihan berjalan tanpa henti.

Selain itu, kebersihan lingkungan dan fasilitas umum seperti sekolah dan masjid menjadi prioritas utama. Hal ini tidak hanya membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga setempat.

Peran Masyarakat dan Mitra Kerja

Partisipasi masyarakat setempat juga sangat penting dalam proses pembersihan. Warga terdampak turut serta dalam membersihkan rumah mereka dan membantu kegiatan pembersihan di sekitar lokasi. Selain itu, dukungan dari berbagai mitra kerja seperti BUMN dan perusahaan swasta memperkuat kemampuan tim dalam melakukan pembersihan.

Dengan kombinasi antara sumber daya manusia, alat berat, dan partisipasi masyarakat, proses pembersihan di wilayah terdampak banjir bandang semakin efisien dan cepat. Hal ini menunjukkan komitmen kolektif untuk memulihkan kondisi daerah yang terkena dampak bencana.