Peran Sains Iklim dalam Menghadapi Bencana Hidrometeorologi

Bencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra pada November 2025 menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pemanfaatan sains iklim dalam pengelolaan bencana hidrometeorologi. Dalam hal ini, sains iklim memainkan peran kunci dalam seluruh siklus pengurangan risiko bencana, mulai dari tahap prabencana hingga pascabencana.
Fase Prabencana: Analisis Data untuk Pemetaan Zona Rawan
Dalam fase prabencana, analisis data historis dan indeks ekstrem dapat digunakan untuk memetakan zona-zona rawan bencana. Hal ini membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah setempat. Dengan memahami pola cuaca dan kejadian bencana sebelumnya, langkah-langkah pencegahan dapat dilakukan lebih awal.
Fase Saat Bencana: Penggunaan Informasi Iklim untuk Respons Darurat
Saat bencana terjadi, informasi iklim menjadi sangat penting. Dengan menggunakan impact-based forecasting, respons darurat dapat dilakukan secara cepat dan efisien. Misalnya, informasi tentang curah hujan tinggi atau potensi longsoran dapat digunakan untuk mengambil tindakan evakuasi atau penyelamatan yang tepat.
Fase Pascabencana: Proyeksi Iklim untuk Pemulihan dan Adaptasi
Setelah bencana terjadi, proyeksi iklim jangka panjang diperlukan untuk mendukung pemulihan, rekonstruksi, dan adaptasi masyarakat. Dengan memahami kondisi iklim masa depan, langkah-langkah penanggulangan bencana dapat disesuaikan agar tidak terulang lagi.
Peringatan Awal dan Kesiapan Masyarakat
Menurut warga setempat, peringatan tentang potensi longsor telah beredar sebelum bencana terjadi. Beberapa dari mereka menyampaikan bahwa tanah longsoran sudah tertahan oleh kayu-kayu di atas bukit. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tentang ancaman bencana sudah ada, tetapi kurang dipahami atau direspons dengan baik.
Selain itu, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) juga telah memberikan peringatan tentang potensi curah hujan tinggi di wilayah Sumatra. Fakta ini banyak terekam dalam pemberitaan dan jejak digital, yang menunjukkan bahwa informasi tersebut tersedia.
Kejadian pada 25 November 2025
Pada 25 November 2025, lebih dari 50 orang terjebak di tengah hutan selama dua hari dua malam akibat banjir dan longsor. Kesaksian dari warga setempat menyampaikan bahwa mereka telah diberi peringatan sebelum bencana terjadi. Namun, kesadaran masyarakat terhadap ancaman tersebut masih rendah.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kondisi Iklim
Menurut analisis yang dilakukan oleh Dr I Putu Santikayasa, variabilitas iklim di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai fenomena, antara lain monsun Asia dan Australia, El Niño–Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), siklon tropis, serta Madden–Julian Oscillation (MJO).
Pada dasarian terakhir November 2025, IOD berada pada fase negatif lemah dan ENSO menunjukkan kondisi La Niña lemah yang cenderung menuju netral. Meskipun demikian, faktor utama yang memengaruhi kejadian bencana adalah kemunculan bibit siklon tropis di Selat Malaka yang memicu hujan ekstrem.
Curah Hujan yang Ekstrem
BMKG mencatat curah hujan di Sumatra bagian utara mencapai lebih dari 300 milimeter. Bahkan, pada 26 November terjadi hujan harian hingga sekitar 438 milimeter, yang setara dengan curah hujan satu bulan dalam satu hari. Kondisi ini memperbesar potensi banjir bandang dan longsor yang berdampak luas.
Tantangan dan Pelajaran Berharga
Dari kejadian ini, kita belajar bahwa penting bagi semua pemangku kebijakan untuk lebih aware dan memanfaatkan sains iklim agar bisa meminimalisasi korban saat terjadi bencana hidrometeorologi. Dengan memahami dan merespons informasi iklim secara tepat, kita dapat meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana.
