Proyeksi Pertumbuhan Ekspor Indonesia pada 2026
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan bahwa ekspor Indonesia akan terus tumbuh pada tahun 2026. Peningkatan ini diperkirakan akan didorong oleh sektor manufaktur yang berteknologi tinggi, yang dianggap sebagai kontributor utama dalam pertumbuhan ekspor negara.
Pada periode Januari hingga Oktober 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 234,04 miliar, meningkat sebesar 6,96% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas, khususnya dari komoditas utama seperti minyak kelapa sawit (CPO), besi dan baja, serta produk elektronik.
Menurut Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, Ni Made Kusuma Dewi, peningkatan ekspor tersebut merupakan hasil dari berbagai faktor, termasuk permintaan pasar yang stabil dan kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan sektor industri.
Kebijakan yang Mendukung Pertumbuhan Ekspor
Untuk tahun 2026, kinerja ekspor Indonesia akan didukung oleh beberapa kebijakan yang fokus pada peningkatan nilai tambah produk, efisiensi biaya, diversifikasi pasar, serta percepatan pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional. Kebijakan-kebijakan ini dirancang untuk memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Sektor industri otomotif serta elektronik menengah hingga tinggi juga dinilai relatif tangguh pada tahun ini. Kemendag menyatakan bahwa sektor-sektor ini didukung oleh kapasitas produksi yang kuat dan keterintegrasian dalam rantai pasok regional, terutama melalui pemanfaatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).
Potensi Sektor Produk Primer
Di sisi lain, sejumlah produk primer juga diperkirakan masih memiliki potensi untuk mengalami peningkatan ekspor seiring dengan kenaikan harga di pasar global. Contohnya adalah batubara, CPO, produk perikanan termasuk udang, karet, serta produk logam seperti aluminium, tembaga, dan nikel.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 sebesar 3,1%. Angka ini sedikit turun dibandingkan proyeksi untuk 2025 yang sebesar 3,2%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan meningkat menjadi 4,94%.
Asumsi dan Proyeksi Ekspor
Dewi menambahkan bahwa dengan asumsi harga komoditas non-energi meningkat sebesar 4,1%, harga energi menurun 3,7%, serta nilai tukar asumsi APBN sebesar Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS), kinerja ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap tumbuh. Proyeksi ini menunjukkan optimisme terhadap kemampuan ekspor Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
Dengan berbagai strategi dan kebijakan yang telah diambil, pemerintah terus berupaya untuk memastikan bahwa ekspor Indonesia tetap menjadi salah satu pilar utama dalam perekonomian nasional. Tidak hanya itu, upaya peningkatan kualitas produk dan diversifikasi pasar juga menjadi prioritas agar ekspor dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
