BOGOR, BOGORMEDIA
– Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, menyamar sebagai pasien untuk menggagalkan upaya sejoli yang hendak melakukan aborsi atau pengguguran kandungan di kawasan wisata Puncak Bogor, Jawa Barat. Langkah cepat tersebut telah menyelamatkan janin yang baru berusia sekitar tiga bulan.
Pengungkapan ini bermula dari informasi Kapolsek Ciputat, Kompol Bambang, terkait rencana aborsi oleh sepasang kekasih di Jalan Raya Puncak, Desa Cipayung Datar, Kecamatan Megamendung. “Informasi dari Kapolsek Ciputat itu hari Selasa, yang mendapatkan laporan terkait rencana pengguguran kandungan di Puncak.” “Karena lokasinya masih berada di wilayah Kabupaten Bogor, akhirnya langsung kami tindaklanjuti,” kata Edison saat dikonfirmasi melalui keterangannya, Sabtu (10/1/2026).
Karena membutuhkan tindakan cepat, Kompol Edison langsung turun tangan. Upaya awal sempat dilakukan melalui komunikasi jarak jauh via telepon. Salah satu anggota Polwan Polsek Cileungsi bahkan menghubungi laki-laki berinisial A dengan menyamar sebagai dokter kandungan. Namun, cara tersebut gagal karena sejoli itu mulai menaruh curiga.
“Situasinya sangat mendesak. Tim juga tidak bisa nunggu lama lagi,” kata dia. Tak ingin kehilangan jejak, Kompol Edison bersama istri dan tim operasional langsung bergerak menuju lokasi sesuai titik share location yang diterima.
Edison kemudian mendatangi salah satu praktik dokter kandungan dengan menyamar sebagai pasien. Di ruang tunggu, ia dan istrinya mendapati sejoli berinisial E dan A yang sedang mencari layanan untuk menggugurkan kandungan.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh, sejoli yang berstatus pacaran ini berniat menggugurkan kandungan berusia tiga bulan menuju empat bulan. “Mereka sebelumnya mendatangi dokter di wilayah Cibogo, namun dokter tersebut menolak melakukan aborsi dan hanya menyarankan pemeriksaan kehamilan,” ujarnya.
Edison mengungkapkan, rencana aborsi itu bukan sepenuhnya keinginan pasangan tersebut. Mereka mengaku mendapat tekanan dari orang tua perempuan berinisial W, yang meminta kehamilan digugurkan karena menganggap pihak laki-laki tidak sanggup bertanggung jawab. Bahkan, sebelum ke praktik dokter, keduanya ternyata juga sempat membeli dan mengonsumsi obat Misoprostol, tetapi tidak menimbulkan reaksi.
Untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum dan membahayakan keselamatan janin, polisi membawa sejoli tersebut ke Mapolsek Cileungsi. Kepolisian kemudian memanggil orang tua kedua belah pihak untuk dilakukan mediasi. Melalui pendekatan dialog dan kemanusiaan, Kompol Edison memberi ruang pembicaraan agar kehamilan tidak digugurkan.
Mediasi itu berujung pada kesepakatan bersama untuk mempertahankan kandungan. Pihak laki-laki menyatakan kesediaannya bertanggung jawab dan merawat bayi tersebut hingga lahir. “Kesepakatan tersebut dituangkan dalam surat perjanjian yang disaksikan keluarga dan kepolisian sebagai bentuk komitmen demi keselamatan dan masa depan anak yang dikandung,” pungkasnya.
Tindakan Cepat dan Strategi Operasional
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Kompol Edison menunjukkan pentingnya tindakan cepat dan strategi operasional dalam situasi darurat. Berikut beberapa hal yang menjadi fokus dalam penanganan kasus ini:
Koordinasi antar instansi
Informasi yang diterima dari Kapolsek Ciputat menjadi dasar bagi tim untuk segera bertindak. Hal ini menunjukkan pentingnya koordinasi antar lembaga dalam menghadapi masalah serius seperti aborsi ilegal.Penyamaran sebagai pasien
Kompol Edison dan istrinya menyamar sebagai pasien untuk mendapatkan informasi langsung di lokasi. Ini adalah langkah strategis untuk menghindari ketahuan dan memastikan keberhasilan penyelamatan janin.Komunikasi jarak jauh
Sebelum tindakan langsung, tim mencoba komunikasi jarak jauh melalui telepon. Meski tidak berhasil, langkah ini menunjukkan inisiatif dan kesiapan untuk mengambil tindakan.Pemanggilan orang tua
Setelah menemukan pasangan tersebut, polisi memanggil orang tua untuk melakukan mediasi. Ini merupakan langkah penting dalam memastikan kesepakatan yang saling menguntungkan dan menjaga keselamatan janin.Surat perjanjian
Kesepakatan yang dicapai dituangkan dalam bentuk surat perjanjian. Ini menjadi bentuk komitmen resmi antara pihak-pihak terkait dan menunjukkan tanggung jawab yang besar dalam menghadapi situasi seperti ini.
Kesimpulan
Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya intervensi cepat dan pengambilan keputusan yang tepat dalam situasi kritis. Dengan tindakan yang cermat dan komunikasi yang baik, polisi berhasil mencegah tindakan yang bisa merusak masa depan seseorang. Keberhasilan ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antar lembaga dapat menghasilkan solusi yang efektif dan manusiawi.
