Perkembangan Terbaru dalam Dunia Estetika: Fokus pada Pemulihan Kulit
Dunia estetika kini sedang mengalami transformasi besar-besaran, dengan fokus utama pada perawatan kulit yang lebih berkelanjutan dan efektif. Salah satu aspek penting yang semakin mendapat perhatian adalah skin barrier, lapisan pelindung alami kulit yang memegang peranan krusial dalam menjaga kesehatan kulit. Gangguan pada skin barrier dapat menyebabkan berbagai masalah seperti kulit kering, sensitif, mudah meradang, hingga penuaan dini.
Kondisi ini mendorong lahirnya pendekatan baru dalam dunia perawatan kulit, yaitu Regenerative Aesthetics. Pendekatan ini tidak hanya menargetkan hasil instan, tetapi juga proses pemulihan struktur kulit secara bertahap, sesuai dengan mekanisme biologis alami tubuh.
Teknologi Perawatan Estetika: Dari Skin Booster Hingga Rekonstruksi Jaringan
Perkembangan teknologi dalam perawatan estetika bisa dibagi menjadi tiga fase utama. Pertama, ada skin booster yang bertujuan untuk memberikan hidrasi cepat. Kedua, collagen stimulator yang merangsang produksi kolagen melalui respons terkontrol. Terakhir, fase terbaru yang menitikberatkan pada rekonstruksi jaringan kulit secara menyeluruh, termasuk penguatan skin barrier.
Salah satu inovasi terbaru dalam bidang ini adalah Aphranel, sebuah teknologi calcium hydroxyapatite (CaHA) generasi terbaru yang dirancang dengan pendekatan regeneratif. Produk ini menggunakan mikropartikel CaHA berukuran 2–10 mikrometer, yang dianggap lebih kecil dan memiliki profil keamanan yang lebih baik dibandingkan CaHA konvensional.
“Ukuran partikel yang lebih kecil memungkinkan distribusi yang lebih merata dan integrasi yang lebih natural dengan jaringan kulit,” ujar dr Riani Loretta, perwakilan PT Estetika Pro International.
Fungsi Mikropartikel CaHA dalam Regenerasi Kulit
Mikropartikel dalam Aphranel dirancang sebagai micro-scaffold non-inflamasi yang membantu aktivitas fibroblas dalam proses pembentukan kolagen. Struktur pori-pori yang menyerupai buah raspberry membantu sel-sel untuk melekat, sehingga produksi kolagen berjalan lebih teratur.
“Kami mengembangkan struktur ini untuk menciptakan lingkungan regeneratif yang stabil tanpa memicu respons inflamasi berlebihan,” tambahnya.
Dari sisi durabilitas, CaHA dalam Aphranel akan terdegradasi secara bertahap dalam waktu 3–6 bulan, memberi ruang bagi proses regenerasi kulit yang konsisten dan selaras dengan mekanisme biologis alami.
Kombinasi Bahan yang Mendukung Efek Antioksidan
Aphranel juga dikombinasikan dengan modified polysaccharide cellulose, biomaterial dengan daya ikat air tinggi hingga lima kali lebih besar dibandingkan hyaluronic acid. Bahan ini juga berperan dalam efek antioksidan dan modulasi pigmentasi.
“Kombinasi antara CaHA dan polysaccharide cellulose membantu menurunkan stres seluler, sehingga fibroblast dapat bekerja lebih efisien dan menghasilkan kolagen yang lebih terorganisir,” jelasnya.
Kolaborasi Penelitian untuk Pengembangan Biomaterial
Aphranel dikembangkan melalui kolaborasi riset dengan tiga institusi ternama, yaitu Nanjing Tech University, Shanghai Jiao Tong University, dan University of Shanghai for Science and Technology. Ketiga universitas ini dikenal memiliki fokus kuat pada pengembangan biomaterial medis.
Teknologi ini dirancang untuk memperkuat skin barrier, menurunkan transepidermal water loss (TEWL), serta menjaga hidrasi jangka panjang. Revitalisasi dermis berlangsung bertahap melalui peningkatan kolagen tipe I dan III serta penguatan struktur pelindung kulit.
Perubahan mulai terlihat sekitar tujuh hari setelah aplikasi dan berkembang secara alami sesuai ritme biologis kulit. Dengan demikian, Aphranel menawarkan solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga ramah terhadap proses alami tubuh.
