Penjelasan Mengenai Susu Kental Manis dan Risiko Kesehatannya
Banyak keluarga di Indonesia masih menganggap susu kental manis (SKM) sebagai minuman susu harian, terutama saat sarapan. Padahal, SKM sebenarnya tidak dirancang untuk dikonsumsi sebagai pengganti susu segar atau susu ultra high temperature (UHT). Hal ini disebabkan oleh kandungan gulanya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan susu yang biasa dikonsumsi.
Karina Rahmadia Ekawidyani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, menjelaskan bahwa SKM merupakan produk olahan susu yang dibuat dengan mengurangi kadar air dan menambahkan gula dalam jumlah besar, yaitu sekitar 40–50 persen. Karena itu, mengonsumsi SKM setiap hari bisa menimbulkan risiko kesehatan.
“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujar Karina melalui keterangan tertulis, Jumat, 27 Maret 2026.
Menurut Karina, dibandingkan susu segar dan susu UHT, kandungan gizi SKM relatif lebih rendah. Meski tetap mengandung lemak dan protein, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan gizi harian, sehingga anggapan bahwa produk ini setara dengan susu minum tidak tepat.
Ia menjelaskan bahwa hampir setengah kandungan SKM adalah gula. Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, terdapat kurang lebih 15 gram gula. Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan dalam pedoman gizi seimbang adalah 50 gram.
“Artinya, jika seseorang mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari, jumlah tersebut sudah mencapai batas konsumsi gula harian,” katanya.
Pentingnya Mengontrol Konsumsi SKM
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk selalu memperhatikan takaran saji pada kemasan dan menggunakan sendok takar agar konsumsi gula tetap terkontrol. “Jangan langsung menuangkan dari kaleng. Dengan menakar, kita bisa mengetahui batas penggunaannya,” ucap dia.
Karina menegaskan bahwa fungsi utama SKM adalah sebagai pemanis atau pelengkap rasa pada makanan dan minuman, bukan sebagai pengganti susu konsumsi sehari-hari, apalagi bagi anak-anak.
Penggunaan SKM Saat Bulan Puasa
Saat bulan puasa, minuman manis memang sering dipilih saat berbuka. Namun, dia mengingatkan agar penggunaan SKM tetap dibatasi. “Kalau sudah menggunakan SKM yang tinggi gula, sebaiknya tidak menambahkan gula pasir atau sirup lagi agar asupan gula tetap seimbang,” katanya.
Tips untuk Mengonsumsi SKM dengan Bijak
- Gunakan sendok takar untuk mengukur jumlah SKM yang dikonsumsi.
- Hindari menambahkan gula tambahan jika sudah menggunakan SKM.
- Batasi konsumsi SKM dalam sehari agar tidak melebihi batas gula harian yang dianjurkan.
- Pertimbangkan alternatif lain seperti susu segar atau susu UHT untuk kebutuhan nutrisi harian.
- Perhatikan informasi gizi pada kemasan SKM untuk memastikan konsumsi tetap sehat.
Dengan kesadaran yang baik tentang kandungan SKM dan cara mengonsumsinya, masyarakat dapat menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa mengorbankan kesejahteraan jangka panjang.
