Pedagang Parcel Lebaran di Pasar Cikini Keluhkan Turunnya Penjualan Hingga 75 Persen





,


Jakarta


– Lesunya
daya beli
Masyarakat yang berada di Bulan Ramadan kali ini turut dirasakan pengaruhnya oleh para pedagang di Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat. Saat
Tempo
mengjungi pusat penjualan
parsel
Hal tersebut terjadi pada Jumat sore, 28 Maret 2025, di mana hanya sedikit pengunjung yang mampir untuk memeriksa barang-barang dagangan.

Beberapa pedagang juga mengeluh tentang berkurangnya jumlah konsumen. “Wow, penjualannya sangat menurun. Setiap harinya seperti ini sepi,” ujar Andi—bukan namanya yang sebenarnya—, salah satu pengawas lapak, ketika dijumpai di depan gerainya, Jakarta Pusat.

Andi mengira bahwa penjualan keranjang hadiah merosot hingga 75% dibandingkan tahun lalu. Sebagaimana ia jelaskan, biasanya mereka dapat mengekspos antara 30 hingga 40 buah keranjang setiap harinya pada masa yang sama di tahun sebelumnya, namun kini hanya perlu mencapai 4 untuk mendapatkan keuntungan. Meski demikian, hal itu baru cukup berkat tambahan pendapatan dari penjualan lain.
online
.

“Jika tidak begitu, nanti akan terlihat sangat sepi. Meskipun hanya menjual satu pun sudah cukup beruntung,” katanya. “Sementara dahulu, kami dapat melayani hingga 10 truk kendaraan setiap pagi,” keluhannya menunjukkan penurunan jumlah pelanggan.

Andi menawarkan keranjang hadiah berisi perabot rumah tangga seperti cawan dan piring yang telah didekorasi dengan indah. Ia mengestimasi harga dagangannya berkisar antara Rp 1,5 juta sampai tertinggi sebesar Rp 3 juta. Menurut Andi, salah satu alasan penjualan merosot mungkin disebabkan oleh upaya penghematan biaya.

Ternyata, mayoritas pelanggan di toko miliknya merupakan pelanggan tetap yang umumnya berasal dari lembaga pemerintahan. “Umumnya itu datang dari Mabes Polri dan TNI,” katanya. “Dulunya mereka memesan hingga 60 kotak, namun saat ini jumlah tersebut berkurang menjadi kira-kira enam belas.”

Sesuai dengan Andi, tiga pedagang lainnya yang dijumpai juga memiliki pandangan serupa.
Tempo
Mereka juga menyampaikan hal serupa. Mereka menilai bahwa atmosfer pasarnya tahun ini cukup lesu, bahkan sejak awal memasuki bulan Ramadan. “Kondisinya seperti ini setiap harinya. Karena sudah tidak bisa diubah lagi, maka kami hanya perlu bertahan sampai esok.”
Lebaran
“Pulang,” ujar sang wanita penjual, yang tidak mau menyebutkan namanya.

Kemerosotan kemampuan konsumsi penduduk ini ditandai oleh adanya deflasi di awal tahun 2025. Di bulan Februari, pengurangan dalam indeks harga mencapai 0,1% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ini merupakan tingkat
deflasi
Terendah sejak Januari 2000 dengan angka 1,1 persen pada waktu itu. Berdasarkan survei dari Bank Indonesia (BI), kepercayaan konsumen menurun karena pandangan publik mengenai kesulitan menciptakan lapangan pekerjaan.

Di samping itu, dalam laporan Tempo yang bertajuk ‘Mengapa Ekonomi Idul Fitri 2025 Lemah’, sang ekonom tersebut mengatakan
Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Keuangan
Dzulfian Syafrian menyebutkan bahwa salah satu alasan konsumen sering menunda pembelian mereka adalah disebabkan oleh penurunan kualitas lapangan kerja. Walaupun semakin banyak lowongan pekerjaan, sebagian besar berbentuk pekerjaan informal dengan penghasilan yang tak tetap.

Akhirnya, kebanyakan karyawan bekerja di sektor dengan penghasilan rendah, sementara lapangan kerja formal yang memberikan stabilisasi, kontrak kerja, dan perlindungan sosial malahan semakin berkurang. “Ini menyebabkan pendapatan keluarga menjadi lebih tidak pasti, terutama selama periode Idulfitri saat konsumsi umum naik,” katanya pada hari Selasa, tanggal 25 Maret 2025.


Riani Sanusi Putri

menyumbang untuk penulisan artikel ini.