Kontroversi Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju yang Melibatkan Ahmad Dhani
Pernikahan antara El Rumi dan Syifa Hadju yang seharusnya menjadi momen bahagia ternyata diwarnai oleh kontroversi yang melibatkan orangtuanya, yaitu Ahmad Dhani. Isu ini bermula dari kekesalan sang ayah terhadap putrinya, Safeea Ahmad, yang menangis saat acara sungkeman El Rumi. Ia menyindir seseorang yang dianggap sebagai wanita akting yang membuat putrinya menangis.
Meskipun tidak secara langsung menyebutkan nama, banyak petunjuk dalam unggahan tersebut membuat warganet berspekulasi bahwa sosok yang dimaksud adalah mantan istrinya, Maia Estianty. Hal ini memicu perdebatan panas di media sosial dengan berbagai reaksi dari netizen yang terbelah antara mendukung dan mengkritik sikap Dhani.
Situasi semakin memanas ketika akun Instagram @ahmaddhaniofficial tiba-tiba hilang. Akhirnya, Dhani menyambangi Bareskrim Polri untuk berkonsultasi perihal kejadian tersebut. Ia mendapatkan informasi bahwa akun tersebut raib bukan karena mass report, melainkan ada pesanan khusus. Pada Selasa (5/5/2026), akun tersebut kembali aktif.
Postingan Perdana Ahmad Dhani Setelah Akun IG Kembali
Setelah dua hari kehilangan akses ke akun Instagram pribadinya, Ahmad Dhani akhirnya kembali aktif pada Selasa (5/5/2026). Postingan pertamanya langsung mencuri perhatian. Ia kembali menyerang mantan istrinya, Maia Estianty, dengan mengunggah dokumen lama terkait laporan dari Maia Estianty.
Kejadian ini bermula pada Minggu (3/5/2026) ketika akun @ahmaddhaniofficial tiba-tiba tidak dapat diakses. Hilangnya akun terjadi tidak lama setelah Dhani mengunggah konten di sela prosesi siraman putra bungsunya, El Rumi. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan foto bersama putrinya, Safeea, dengan keterangan yang memicu perhatian warganet.
Dalam tulisan tersebut, Dhani menyinggung adanya drama dan narasi publik yang menggiring opini seolah seseorang menjadi korban. Unggahan itu memicu spekulasi karena Dhani diduga menyindir Maia Estianty hingga isu perselingkuhan yang melibatkan seorang petinggi televisi swasta.
Tindakan Konsultasi ke Bareskrim
Tidak tinggal diam, Dhani memutuskan untuk mendatangi Gedung Bareskrim Polri di Jakarta Selatan pada Senin (4/5/2026). Tujuannya adalah untuk berkonsultasi dengan ahli siber mengenai hilangnya akun Instagram miliknya tersebut. Dhani meyakini bahwa hilangnya akun ini merupakan dampak dari sikapnya yang semakin vokal di media sosial.
Ia menduga ada pasukan buzzer yang sengaja dikerahkan untuk membungkam suaranya dan tengah berupaya melacak pihak di balik pergerakan tersebut. “Tim saya lagi nyari siapa yang mengarahkan buzzer-buzzer itu, enggak ada (langkah hukum), gimana caranya,” tegasnya.
Langkah konsultasi yang dilakukan Ahmad Dhani di Bareskrim membuahkan penjelasan terkait teknis hilangnya akun tersebut. Berdasarkan diskusi dengan ahli siber, Dhani mendapatkan kepastian bahwa hilangnya akun miliknya bukan disebabkan oleh laporan massal atau mass report dari netizen, melainkan sebuah tindakan yang terorganisir.
“Kami mendapatkan informasi bahwa akun saya itu di-take down bukan karena mass report, tapi karena pesanan khusus,” ujar Ahmad Dhani. Ia menduga ada pihak yang merasa terancam dengan aktivitasnya di media sosial.
Kembalinya Akun dan Serangan Lanjutan
Situasi tersebut akhirnya berangsur normal pada Selasa (5/5/2026) ketika akun @ahmaddhaniofficial kembali dapat diakses publik. Meski akun telah pulih, jumlah pengikutnya terpantau stabil di angka sekitar satu juta akun.
Tak lama setelah akunnya kembali, Dhani langsung kembali menyerang Maia Estianty. Ia membagikan dokumen kepolisian terkait penghentian penyidikan atas laporan dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang pernah dilayangkan oleh mantan istrinya. Dokumen itu menunjukkan bahwa proses penyidikan dihentikan pada 3 November 2008 karena tidak ditemukan cukup bukti.
Dhani menyertakan keterangan dalam unggahannya terkait dokumen tersebut. “NI SALAH SATU LAPORAN PALSU YANG DILAKUKAN OLEH MAYA ESTIANTY. Saat melapor ke polisi soal KDRT yg dilakukan AhnadDhani (2007), Berbondong bondong media menayangkan beritanya. Giliran keluar bukti hoax nya (2008), media mingkem cep,” tulisnya.

