Kritik terhadap Pertumbuhan Ekonomi NTB: Apakah Tumbuh atau Rapuh?
Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Triwulan I 2026 mencatat angka sebesar 13,64 persen secara year-on-year dengan nilai PDRB sekitar Rp52,62 triliun. Angka ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, tetapi juga menandai kinerja ekonomi yang sangat kuat dalam skala regional. Namun, ada narasi yang menyebut pertumbuhan ini sebagai “rapuh”. Pertanyaannya adalah, apakah ini benar-benar tanda kelemahan, atau justru penilaian yang keliru?
Struktur dan Sumber Pertumbuhan
Untuk menilai apakah pertumbuhan tersebut kuat atau rapuh, kita perlu melihat struktur dan sumbernya. Dalam hal ini, data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB tidak bertumpu pada satu sektor saja. Beberapa sektor mengalami pertumbuhan signifikan, antara lain:
- Industri pengolahan tumbuh sebesar 60,25 persen
- Pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 31,80 persen
- Jasa Keuangan tumbuh sebesar 13,48 persen
- Pertanian tumbuh sebesar 10,31 persen
- Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh sebesar 10,84 persen
- Sektor lain seperti Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor tumbuh sebesar 9,91 persen
Selain itu, sektor-sektor lain seperti Transportasi dan Pergudangan, Pengadaan Air, dan Jasa Kesehatan juga menunjukkan pertumbuhan positif.
Keseimbangan Struktur Ekonomi
Struktur ekonomi NTB menunjukkan komposisi yang relatif berimbang. Pertanian menyumbang 22,23 persen, diikuti oleh pertambangan sebesar 19,71 persen, perdagangan 14,10 persen, dan konstruksi 8,31 persen. Hal ini menunjukkan bahwa NTB tidak sepenuhnya bergantung pada satu sektor, melainkan didukung oleh kombinasi produksi, distribusi, dan konsumsi yang berjalan bersamaan.
Pola Pengeluaran
Dari sisi pengeluaran, pola yang sama terlihat. Meskipun ekspor menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 91,87 persen, konsumsi rumah tangga dan investasi juga mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5,15 persen dan 3,71 persen. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi juga didukung oleh aktivitas ekonomi domestik.
Perspektif Teori Ekonomi
Dalam literatur ekonomi pembangunan, kondisi seperti ini bukanlah anomali. Menurut teori unbalanced growth dari Albert O. Hirschman, pertumbuhan sering kali dimulai dari sektor-sektor tertentu yang memiliki daya dorong tinggi, sebelum kemudian menyebar ke sektor lainnya. Demikian pula dengan teori Simon Kuznets, yang menjelaskan bahwa pada tahap awal pembangunan, ketimpangan antar sektor merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari proses transformasi ekonomi.
Dengan demikian, pertumbuhan yang awalnya ditopang oleh sektor tertentu bukanlah tanda kerapuhan, melainkan bagian dari dinamika struktural. Yang menjadi ukuran bukanlah titik awalnya, tetapi apakah pertumbuhan tersebut mulai menyebar. Dalam konteks NTB, data justru menunjukkan bahwa efek pertumbuhan telah menjangkau berbagai sektor, termasuk pertanian, perdagangan, dan jasa.
Kekeliruan Narasi “Rapuh”
Menyebut ekonomi NTB rapuh di tengah pertumbuhan lintas sektor bukanlah analisis yang utuh, melainkan penyederhanaan yang prematur. Persoalannya bukan pada datanya, tetapi pada cara membaca data secara parsial lalu menarik kesimpulan yang terburu-buru.
Meskipun secara triwulanan ekonomi NTB mengalami kontraksi sebesar -1,30 persen akibat penurunan ekspor sebesar -25,95 persen, fluktuasi jangka pendek seperti ini adalah hal yang lazim, terutama pada daerah dengan basis ekonomi berbasis komoditas. Menggunakan data triwulanan untuk menilai kekuatan ekonomi tahunan justru berisiko menyesatkan.
Tren Tahunan yang Relevan
Yang lebih relevan adalah tren tahunan, dan dalam hal ini NTB menunjukkan pertumbuhan yang tidak hanya tinggi, tetapi juga relatif menyebar. Seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan, yang menandakan bahwa aktivitas ekonomi meningkat secara luas, bukan hanya pada satu sektor tertentu.
Tantangan yang Tetap Ada
Tentu, ini bukan berarti ekonomi NTB tanpa tantangan. Ketergantungan pada ekspor tertentu dan volatilitas komoditas tetap perlu dikelola melalui diversifikasi dan penguatan sektor riil. Namun, mengakui tantangan berbeda dengan menyimpulkan kelemahan secara simplistik.
Kesimpulan
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, menyebut pertumbuhan ini sebagai rapuh tanpa melihat konteks strukturalnya bukan hanya simplifikasi, tetapi juga bertentangan dengan pemahaman dasar tentang bagaimana ekonomi tumbuh dan bertransformasi.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang angka pertumbuhan, tetapi tentang kejujuran dalam membaca fakta. Kritik yang sehat harus berdiri di atas data yang utuh, bukan potongan data yang dipilih untuk mendukung narasi tertentu.
Karena dalam ekonomi, sebagaimana dalam kebijakan publik, yang diuji bukan hanya kinerja, tetapi juga integritas dalam memahami realitas. Dan dalam konteks ini, data telah berbicara jauh lebih jelas daripada narasi yang dipaksakan.

