SUDUTBOGOR – Wilayah Bogor Barat mendadak gempar setelah gelombang pasien pelajar memadati fasilitas kesehatan di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Sebanyak 489 orang yang terdiri dari siswa dan guru diduga kuat menjadi korban keracunan massal pasca-mengonsumsi paket pangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (27/10/2026).
Insiden medis berskala besar ini tidak hanya melanda satu sekolah. Pihak kepolisian sektor setempat mengonfirmasi efek domino ini tersebar di tiga institusi pendidikan sekaligus, yakni SMPN 1 Dramaga, SMPN 2 Dramaga, dan SMPN 3 Dramaga.
Kronologi: Gejala Baru Menyerang saat Dini Hari
Menurut data yang dihimpun tim redaksi di lapangan, paket makan siang yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah setempat ditelan oleh para korban pada Senin siang (26/10). Menu yang disajikan kala itu meliputi nasi, olahan sate ayam, tempe bacem, serta sayuran.
Anehnya, tidak ada tanda-tanda keanehan atau keluhan fisik yang dirasakan anak-anak sewaktu jam operasional sekolah berlangsung. Petaka justru baru pecah ketika memasuki hari Selasa dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Ratusan murid mendadak terbangun di rumah masing-masing akibat didera rasa mulas yang hebat, demam tinggi, pusing, hingga muntah-muntah dan diare secara berulang kali. Lantaran kondisi anak-anak mereka kian drop, para orang tua langsung melarikan buah hati mereka ke faskes terdekat sejak pagi buta.
Puskesmas Cangkurawok Overload, Pemkab Buka Posko Darurat
Lonjakan drastis jumlah pasien sempat membuat area penanganan di Puskesmas Cangkurawok (Cikarawang) mengalami kelebihan muatan (overload). Menanggapi situasi genting tersebut, Pemkab Bogor bersama jajaran TNI-Polri dan relawan gerak cepat mendirikan posko medis darurat portabel langsung di lingkungan sekolah.
Langkah jemput bola berupa penyisiran rumah ke rumah oleh aparat desa juga dilakukan demi memastikan tidak ada korban yang tertinggal di kediamannya tanpa pengobatan.
“Hingga laporan fisik sore ini dikonfirmasi, mayoritas korban sudah diperbolehkan pulang untuk rawat jalan. Karena kondisi kesehatannya berangsur stabil setelah dipasok obat-obatan. Sementara untuk 22 siswa yang mengalami dehidrasi cukup parah sempat dievakuasi ke RS Karya Bhakti Pratiwi dan RS Medika Dramaga. Saat ini sebagian besar sudah mulai dipulangkan,” ujar Bupati Bogor, Rudy Susmanto, saat memantau fluktuasi data medis.
Guna meringankan beban keluarga terdampak, Rudy Susmanto menggaransi secara mutlak. Bahwa seluruh pembiayaan medis para korban akan dicover sepenuhnya oleh anggaran Pemkab Bogor.
Imbas Insiden: Aktivitas Belajar Dialihkan ke PJJ 2 Hari
Sembari menunggu penegakan diagnosis klinis secara final, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor telah mengamankan sisa sampel. Mulai dari pangan, bumbu dapur, hingga sampel biologis korban untuk diteliti secara laboratorium di Labkesda. Investigasi mendalam ini ditujukan untuk membedah unsur toksik atau bakteri apa yang mengontaminasi lini produksi dapur SPPG terkait.
Sebagai langkah mitigasi darurat pasca-trauma, otoritas pendidikan setempat resmi mengetok palu kebijakan untuk meliburkan sistem belajar tatap muka. Aktivitas akademik di SMPN 1 dan SMPN 2 Dramaga dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari ke depan. Terhitung sejak hari Rabu hingga Kamis.
Peristiwa kelam di Dramaga ini menjadi tamparan keras sekaligus alarm evaluasi total bagi standardisasi kebersihan dan rantai pasok program MBG di Bogor, mengingat kasus serupa sempat terjadi di kawasan Puncak Cisarua beberapa hari yang lalu.

