Perbedaan Fashdu dan Bekam dalam Pengobatan Alternatif
Fashdu dan bekam sering kali dianggap sama karena keduanya melibatkan pengeluaran darah dari tubuh. Namun, secara teknis, prinsip kerja, manfaat, serta risikonya sangat berbeda. Pemahaman yang tepat mengenai perbedaan antara kedua metode ini penting, terutama jika seseorang mempertimbangkan untuk menjalani salah satunya sebagai terapi penunjang kesehatan.
Fashdu: Terapi Pengeluaran Darah dari Pembuluh Vena
Fashdu merupakan metode pengobatan tradisional yang secara medis dikenal sebagai phlebotomy atau terapi pengeluaran darah langsung dari pembuluh darah vena. Dalam praktiknya, terapis akan menusukkan jarum steril ke pembuluh darah untuk mengeluarkan sejumlah kecil darah secara terkendali. Prosedur ini dilakukan dengan tujuan menyeimbangkan kadar zat-zat tertentu dalam darah, seperti zat besi, kolesterol, asam urat, serta mengurangi kekentalan darah yang berlebihan.
Fashdu sering digunakan untuk mendukung penanganan berbagai kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, penyakit jantung, risiko stroke, dan penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD). Selain itu, terapi ini diklaim mampu memperbaiki sirkulasi darah, membantu kerja limpa, serta menjaga kualitas sel darah merah.
Namun, karena melibatkan pembuluh darah besar, fashdu tidak dapat dilakukan sembarangan. Terapi ini memiliki potensi risiko yang cukup serius apabila tidak dilakukan oleh tenaga profesional, seperti anemia, infeksi, syok, bahkan kematian. Oleh karena itu, banyak pihak medis masih mempertanyakan keamanan serta efektivitas al-fashdu. Hingga kini, bukti ilmiah yang mendukung terapi ini masih terbatas, dan Kementerian Kesehatan Indonesia pun masih terus mengkaji kelayakannya secara lebih dalam.
Bekam: Terapi Hisap Tradisional dari Permukaan Kulit
Berbeda dari fashdu, bekam merupakan terapi tradisional yang telah dipraktikkan selama ribuan tahun, terutama di kawasan Timur Tengah dan Tiongkok. Terapi ini dilakukan dengan menempelkan cangkir khusus pada kulit untuk menciptakan tekanan negatif atau hisapan. Prosedur ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu bekam kering dan bekam basah.
Pada bekam kering, cangkir hanya diletakkan pada kulit selama beberapa menit tanpa melibatkan pengeluaran darah. Sementara pada bekam basah, setelah dilakukan penyedotan, kulit akan diberikan sayatan kecil untuk mengeluarkan darah dari lapisan kapiler bawah kulit. Terapi ini dipercaya dapat membantu mengatasi berbagai keluhan, seperti nyeri otot, migrain, rematik, tekanan darah tinggi, varises, gangguan pencernaan, hingga masalah kesuburan.
Bekam dinilai lebih aman dibandingkan al-fashdu karena tidak melibatkan pembuluh darah besar. Meski begitu, tetap ada risiko yang perlu diperhatikan, terutama pada bekam basah. Luka sayatan yang tidak ditangani secara higienis dapat menimbulkan infeksi, bahkan membuka peluang penularan penyakit seperti hepatitis atau HIV jika alat yang digunakan tidak steril. Efek samping lain seperti memar, iritasi kulit, atau rasa pusing juga mungkin terjadi, meski umumnya bersifat ringan dan sementara.
Perbedaan Mendasar Antara Fashdu dan Bekam
Perbedaan paling mendasar antara kedua terapi pengobatan alternatif ini terletak pada teknik dan lokasi pengambilan darah. Fashdu mengeluarkan darah dari pembuluh vena menggunakan jarum suntik steril, sedangkan bekam mengambil darah dari permukaan kulit menggunakan metode hisap dan sayatan ringan. Jenis darah yang dikeluarkan pun berbeda.
Fashdu mengeluarkan darah vena yang mengandung zat sisa metabolisme secara sistemik, sementara bekam mengeluarkan darah dari kapiler yang berada di bawah permukaan kulit.
Dari segi tujuan, fashdu lebih fokus pada pengobatan gangguan metabolik sistemik seperti kelebihan zat besi, darah kental, atau gangguan sirkulasi. Sebaliknya, bekam lebih ditujukan untuk meredakan nyeri lokal, memperlancar peredaran darah di area tertentu, serta membantu relaksasi otot.
Risiko medis pada fashdu relatif lebih tinggi karena prosedur ini bersifat invasif dan menyasar pembuluh darah besar. Jika dilakukan tanpa pengawasan medis yang memadai, komplikasi serius dapat terjadi. Sebaliknya, risiko bekam cenderung lebih ringan, namun tetap membutuhkan perhatian terhadap kebersihan alat dan prosedur untuk mencegah infeksi.
