SUDUTBOGOR – Wajah kerut yang dipenuhi keringat mengalir di seluruh tubuh seorang laki-laki tua bernama Saepuloh (60).
Meja kecil yang ada menjadi saksi bahwa Saepuloh tekun bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga meskipun harus menjadi tukang perbaiki sepatu.
Ia menolak untuk menyerah dalam menjalani kehidupan meskipun sudah memasuki masa tua.
Ya, setiap hari, Saepuloh mencari penghidupan sebagai tukang perbaiki sepatu di Pasar Cicangkal, Desa Tamansari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.
Dengan menggunakan jarum, lem, semir dan beberapa alat lainnya, tangan lelaki yang kurus itu gesit dalam memperbaiki sepatu milik pelanggannya.
Laki-laki berusia enam puluhan terdaftar sebagai penduduk Garut, Jawa Barat.
Ia pergi merantau dan telah bekerja sebagai tukang sol sepatu di Pasar Cicangkal sejak tahun 1985 dengan tarif perbaikan sepatu sebesar Rp 200.
Di depan pasar Cicangkal, jalan Raya Pasar Cicangkal tepatnya. Sejak tahun 1985, biaya ngesol dimulai dari Rp 200 hingga kini menjadi Rp 20 ribu per pasang,” katanya, Senin (11/8/2025).
“Ya, dulu sepatu sepasang berkisar Rp 150 hingga 200 perak, sekarang sudah tidak seperti dulu,” tambahnya.
Tekanan ekonomi dan tingginya biaya kebutuhan hidup membuatnya memiliki tekad kuat dan siap berjuang keras untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
“Tidak tahu apa yang harus dikerjakan selanjutnya, hanya ini yang mampu saya lakukan,” katanya.
Dengan wajah yang penuh kesedihan, Saepuloh berjuang mengarungi kehidupan mulai dari pagi hingga sore hari, tetapi penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan.
“Beginilah kenyataannya. Yang namanya rezeki, bukan kita yang menentukan. Terkadang bisa mendapatkan Rp 100 ribu dan terkadang hanya Rp 50 ribu,” katanya dengan penuh harap.
Ia mengakui bahwa penghasilan tertinggi diraih pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
“Biasanya seminggu lagi menjelang lebaran pesanan mulai meningkat,” katanya.
“Jika rezeki kita tidak akan berubah, segalanya telah ditentukan oleh yang maha kuasa,” kata Saepuloh.
Pukul pagi mulai mendekati siang, Saepuloh sibuk dengan tugasnya. Ada yang sedang menjahit dan ada pula yang sedang menempelkan lem.
Di bawah terik matahari yang menyengat, terdapat harapan yang membara bagi orang-orang miskin.
“Mengumpulkan uang meskipun sedikit, yang terpenting bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.
