SUDUTBOGOR – Ini bukan kali pertama kami melakukan perjalanan dengan kereta jarak jauh di Jawa. Namun, perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi yang akan kami lakukan awal Oktober nanti merupakan yang terjauh, tanpa berhenti menginap di kota tertentu. Diperkirakan memakan waktu hampir 17 jam. Fakta ini justru menambah semangat kami.
Karena perjalanan yang jauh, di awal perjalanan saya langsung memeriksa posisi kami dengan baik. Pintu keluar terdekat, mushola, serta tentu saja toilet. Alhamdulillah kondisi toilet cukup baik dan bersih, sehingga tidak perlu khawatir mengenai kebutuhan untuk buang air selama perjalanan ini.
Untuk keperluan ibadah sholat, terdapat mushola di bagian depan kereta makan. Ukurannya kecil, hanya dapat menampung maksimal tiga orang. Campuran laki-laki dan perempuan. Cukup rapi dan bersih. Sarung serta mukena juga tersedia.
Berdasarkan jalur yang tercantum di beberapa tempat di kereta, setelah kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen di Jakarta, kereta akan berhenti di 26 stasiun lainnya, termasuk beberapa stasiun besar seperti Tegal, Semarang Tawang, Pasarturi, dan Gubeng di Surabaya, hingga Stasiun Ketapang di Banyuwangi sebagai tujuan akhir kami.
Kereta kami (dan yang lainnya juga) tampak rapi dan bersih. Nuansa warna biru langit bercampur abu-abu dan putih terlihat anggun. Di setiap pasangan kursi tersedia meja kecil serta dua colokan listrik. Aman untuk mengisi daya perangkat elektronik kapan saja. Setiap kursi juga dilengkapi meja lipat jika kita ingin bekerja dengan laptop, atau sekadar sebagai meja makan.
Kami naik kereta yang tidak terlalu penuh, mungkin hanya sekitar seperempat kursi yang terisi. Ada juga pasangan orang asing yang duduk di beberapa baris setelah kami. Namun, sepanjang perjalanan, penumpang bergantian. Pada waktu tertentu, kereta kami hampir penuh juga.
Baca: Jalur Perlahan Bogor – Lombok: Menikmati Kereta Jakarta – Banyuwangi [Bagian Pertama]
Lintas Jawa, Melintas Waktu
Kereta berjalan perlahan ke arah selatan Jakarta, lalu melaju lurus ke timur setelah melewati Stasiun Jatinegara. Setelah sedikit menunggu untuk sholat Dzuhur dan Asar yang dijama’ qasar di mushola kecil kereta, kami mulai duduk tenang menikmati perjalanan sebelum malam tiba.
Kami memutuskan duduk di sisi kiri arah perjalanan kereta, berharap bisa sedikit melihat laut karena kereta akan melewati jalur utara Jawa. Kereta yang bergerak ke timur tidak menghalangi masuknya cahaya matahari terang ke dalam kereta.
Di sepanjang Bekasi, Kerawang, hingga Cirebon, selain permukiman, kami lebih sering melihat luasnya persawahan yang sebagian besar telah berwarna kekuningan atau kering kecokelatan setelah panen. Wilayah ini merupakan daerah penghasil padi Jawa Barat bahkan nasional. Ratusan domba terlihat sedang berkumpul di sisa-sisa sekam padi.
Sementara kami sibuk berbicara, mengambil foto, dan mengetahui lokasi-lokasi yang kami lewati melalui Google maupun tanda-tanda wilayah, di sebelah kami tampaknya duduk pasangan tua yang juga sibuk dengan diri sendiri. Tampaknya mereka sudah terbiasa naik kereta ini, mahir memesan berbagai makanan kereta dan terlihat tenang menikmati perjalanan.
Di setiap stasiun kereta, kereta hanya berhenti sejenak, mungkin kurang dari 10 menit. Hanya di beberapa stasiun tertentu, kereta berhenti cukup lama, bisa hampir setengah jam. Salah satunya adalah Stasiun Cirebon, sekitar pukul tiga sore.
Saya sempat turun dari kereta. Banyak penumpang lainnya juga, terutama para perokok. Saya sendiri hanya sibuk mengambil foto ke sana kemari menggunakan ponsel, sambil melihat banyak petugas yang berada di atap kereta.
“Apa isinya, Pak?” tanya saya penasaran kepada petugas tersebut setelah turun dari atap menggunakan tangga kecil di samping kereta.
“Air, Pak,” jawabnya singkat. Tidak lama kemudian panggilan untuk segera masuk ke kereta terdengar.
Kereta kembali berjalan. Beberapa pemandangan laut terlihat di sisi kiri kami setelah melewati Cirebon.
Kira-kira pukul empat sore, kami sampai di Stasiun Tegal. Saya memaksa turun karena stasiun terlihat cukup besar dan megah. Bangunan utamanya mungkin sebesar Stasiun Bogor yang sering saya lihat. Berdasarkan informasi dari Wikipedia yang kami baca, Stasiun Tegal sebenarnya sudah dibangun sejak tahun 1886. Awalnya berfungsi sebagai stasiun trem, lalu berganti kepemilikan beberapa kali dan mengalami renovasi hingga akhirnya menjadi stasiun kereta antar kota.
Dilihat dari struktur bangunannya, tampaknya semua stasiun yang kami lewati merupakan bangunan lama, khas seperti stasiun-stasiun pada masa kolonial Belanda dulu. Meskipun beberapa di antaranya telah mengalami perbaikan dengan sentuhan gaya modern.
Saya sedikit membayangkan suasana masa lalu setiap kali kami melewati atau berhenti di sebuah stasiun. Nuansa gelap muda di setiap stasiun, monokrom seperti bayangan kisah masa lalu dalam film-film. Membayangkan stasiun-stasiun tersebut beroperasi pada masa kolonialisme Belanda dulu.
Dan, saya juga ingat ketika keluarga kami pernah naik kereta, melewati beberapa stasiun tersebut pada tahun 80-an. Bermain-main keseimbangan di atas rel sambil menunggu kereta tiba, atau hanya sekadar meletakkan telinga di atas rel besi yang katanya bisa mendeteksi kedatangan kereta.
Makan Lezat, Tidur Setengah Terlelap
Kira-kira pukul enam sore, kami tiba di Stasiun Semarang. Sudah gelap. Saya agak ragu untuk turun karena waktu telah terpotong banyak saat kami sedang melaksanakan sholat. Kereta kembali berjalan. Pasangan tetangga kursi sempat membeli ayam goreng di peron stasiun untuk makan malam mereka.
Setiap beberapa saat, biasanya ada pramugari kereta atau prami (petugas kereta) yang mendorong troli di sepanjang lorong gerbong, menawarkan makanan dan minuman kepada penumpang. Dijual.
Karena setelah shalat maghrib kami sudah merasa lapar, tidak perlu menunggu kereta makanan lewat. Istri saya langsung pergi ke gerbong restoran yang hanya terletak di depan gerbong kami untuk memesan makanan.
Kami memesan dua kotak nasi dengan isi daging sapi dan ayam geprek. Kemasan dari karton cukup bagus, menarik, dan rapi. Rasanya tidak mengecewakan. Dengan harga 40 ribu per kotak, cukup memuaskan bagi kami sebagai makanan yang tersedia di dalam kereta.
Setelah sholat maghrib tadi, setiap penumpang diberikan selimut. Cukup tebal, lembut, harum, dan ukurannya sesuai untuk penumpang yang menggunakan selimut sambil duduk.
Malam terus berjalan, tidak ada lagi pemandangan yang terlihat dari luar. Kami sibuk dengan berbagai aktivitas sebelum merasa mengantuk, seperti membaca buku, berbincang-bincang, atau menonton video di YouTube maupun Netflix melalui tab kami. Terkadang tertidur dalam keadaan setengah sadar.
Kurang lebih pukul sepuluh malam, kami tiba di Stasiun Pasarturi Surabaya. Kereta berhenti cukup lama. Saya memanfaatkan kesempatan untuk turun. Menangkap suasana malam di stasiun dalam kegelapan yang indah. Banyak penumpang yang turun dan naik.
Setelah hampir 20 menit berhenti, sopir kereta turun tepat di depan pintu gerbong makanan, di sisi kanan arah perjalanan kereta. Saya diminta segera naik ke bagian atas kereta. Sopir yang berpakaian jas biru gelap menghadap ke depan, memberi tanda, meniup peluit panjang, lalu kembali naik, setelah itu kereta mulai berjalan perlahan.
Nama kondektur yang bertugas biasanya terpampang di dinding sebelah kiri depan setiap kereta, lengkap dengan nomor teleponnya. Mungkin jika ada keluhan, penumpang bisa langsung menghubungi beliau. Selama perjalanan kami dari Jakarta ke Banyuwangi ini, terjadi dua kali pergantian kondektur, yaitu saat berada di Semarang dan Surabaya.
Pernah suatu hari, karena merasa jenuh, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di antara gerbong kereta, termasuk masuk ke gerbong kafe, tempat para pramuniaga, pramugari, dan kondektur biasanya berkumpul.
“Di mana turun Pak?” seorang petugas menanyakan dengan ramah kepada saya, mungkin karena melihat saya sering kali pergi dan kembali.
“Di Ketapang, Bu,” jawab saya dengan sopan.
“Dari Surabaya tadi, Pak?” sambung sang prami bertanya.
“Naik dari Senen tadi siang,” jawabku. Secara spontan, seluruh praminya dan pramanya di sana terlihat kaget. “Benar dari Senen Jakarta,” tambahku untuk memastikan. Perasaanku, ini pertama kalinya mereka bertemu penumpang kereta Jakarta – Banyuwangi yang melakukan perjalanan dari awal hingga akhir.
Tengah Malam
Kami tertidur, meskipun tentu tidak terlalu lelap. Mulai tengah malam, saya perhatikan bahwa selama tidur-tidur ayam ini, ketika kereta akan berhenti di sebuah stasiun, seorang petugas akan berkeliling sambil membawa buku catatan, memeriksa penumpang sesuai dengan nomor kursi mereka, yang akan turun di stasiun berikutnya. Mungkin khawatir penumpang tertidur. Ini juga bagus.
Tengah malam, pasangan asing yang naik bersama kami dari Stasiun Senen akhirnya turun di Stasiun Probolinggo. Saya kembali tertidur sejenak.
Kurang lebih pukul empat, kereta tiba di Stasiun Jember, dan saya sudah benar-benar bangun. Menyegarkan diri. Hampir tiba waktunya shalat Subuh di kota ini. Setelah masuk waktu shalat, saya segera melaksanakan shalat secara bergantian dengan istri, agar ketika turun di Ketapang, kami tidak perlu repot mencari mushola lagi.
Setelah sholat, saya segera mengangkat koper besar kami ke depan kursi baris pertama, di dekat tempat duduk kami. Barang bawaan lain yang ada di kompartemen atas kursi juga telah kami turunkan. Penumpang tidak terlalu banyak, mungkin jumlahnya sama dengan penumpang saat kami naik dari Pasar Senen kemarin.
Akhirnya kami sampai di Stasiun Ketapang, pukul 04.45. Hanya lima menit terlambat dari jadwal awal, yaitu pukul 04.40. Kami sedikit kerepotan saat menurunkan koper dari tangga kereta, namun akhirnya semuanya berjalan lancar. Koper besar kami ditarik oleh istri di peron stasiun. Sesekali kami mengangkatnya bersama. Saya membawa ransel dan daypack.
Berlari Mengejar Feri
Kami sudah tidak lagi memperhatikan kondisi stasiun. Kami fokus mengikuti alur penumpang menuju pintu keluar yang lokasinya tidak kami ketahui.
Sementara berjalan menuju pintu keluar, kami masih ragu apakah perlu memanggil porter untuk membawa koper hingga ke depan stasiun atau tidak. Atau, apakah kami harus memesan taksi online atau tidak nanti. Dan masih banyak lagi pertanyaan seperti itu. Menurut Google Maps, tujuan kami sebenarnya tidak terlalu jauh.
Pintu keluar stasiun berada di sisi utara. Setelah sampai di luar, kami melihat sekeliling. Ah… itu jalan besar, tidak terlalu jauh. Belasan penumpang lain sedang berjalan ke arah tersebut, sambil menarik koper. Kami juga segera mengikuti mereka, sambil membawa koper di antara jalanan yang berlubang. Kami ingin mengejar feri penyeberangan ke Gilimanuk Bali pukul lima pagi ini. Apakah bisa terkejar? *
