Pengamat Buka Rahasia Tantangan Industri Mobile Broadband dan Satelit 2026

Tantangan Utama yang Menghadang Industri Telekomunikasi Nasional

Industri telekomunikasi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi perkembangan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat. Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, mengungkapkan beberapa isu utama yang masih menjadi perhatian serius, baik dalam segmen mobile broadband (MBB), fixed broadband (FBB), maupun layanan satelit.

Mobile Broadband: Ketersediaan Spektrum Frekuensi yang Mendesak

Di segmen mobile broadband, isu paling krusial adalah ketersediaan spektrum frekuensi baru. Menurut Ian, kebutuhan akan frekuensi bagi operator seluler sudah sangat mendesak, terlebih dengan meningkatnya permintaan layanan data yang semakin tinggi. Beberapa frekuensi seperti 700 MHz, 2600 MHz, dan 26 GHz sebenarnya sudah siap digunakan, tetapi masalah utamanya ada pada frekuensi 3500 MHz.

“PR besar masih di 3500, khususnya mengenai mekanisme clearance,” ujar Ian saat dihubungi Bisnis. Pita frekuensi 3.500 MHz memiliki peran strategis dalam persaingan industri telekomunikasi dan peningkatan kualitas layanan mobile broadband. Hal ini menjadi penting jika pemerintah ingin mencapai target RPJMN, termasuk kecepatan layanan hingga 100 Mbps.

Ian melihat peluang besar bagi industri mobile broadband seiring rencana pemerintah untuk merilis spektrum frekuensi baru. Namun, ia menekankan bahwa kesiapan kebijakan menjadi kunci agar industri dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. “Dari sisi pemerintah harus mempersiapkan reserve price yang memungkinkan price recovery terjadi. Desain lelang juga harus mempertimbangkan kesehatan dan sustainable industri,” tambahnya.

Fixed Broadband: Keterjangkauan Harga Layanan

Di sektor fixed broadband, tantangan utama masih berkaitan dengan keterjangkauan harga layanan. Ian menilai harga layanan fixed broadband saat ini relatif tinggi, sehingga belum mampu menjangkau masyarakat secara luas. Selain itu, apabila layanan tersedia, pilihan masyarakat kerap jatuh pada paket dengan kualitas yang kurang optimal, seperti kecepatan rendah dan tingkat latency yang tidak terjaga dengan baik.

Meskipun teknologi Fixed Wireless Access (FWA) dapat membantu menekan biaya penyediaan layanan, dalam jangka panjang, kualitas layanan fixed broadband tetap sangat bergantung pada pembangunan jaringan serat optik atau fiberisasi. Oleh karena itu, lanjut Ian, fiberisasi membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar. Untuk memperluas jangkauan layanan, diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Menurut Ian, manfaat fiberisasi tidak hanya terbatas pada layanan fixed broadband, tetapi juga menjadi fondasi bagi berbagai layanan digital lainnya, seperti mobile broadband, pusat data (data center), hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Layanan Satelit: Efisiensi Biaya dan Koordinasi Penggunaan

Di sisi lain, layanan satelit juga menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam mendukung target cakupan layanan nasional secara efisien dari sisi biaya. Ian menjelaskan bahwa tantangan utama di bidang ini adalah bagaimana mengoptimalkan penggunaan satelit untuk meningkatkan target coverage RPJMN secara cost effective.

Selain itu, tantangan lain terletak pada koordinasi penggunaan satelit agar tidak tumpang tindih dengan jaringan terestrial. Wilayah yang telah tercakup jaringan terestrial dinilai tidak perlu lagi menjadi target layanan satelit. Sebaliknya, satelit dapat difokuskan untuk melayani daerah yang benar-benar sulit dijangkau.

Ian menambahkan, pemanfaatan satelit di wilayah komersial sebaiknya lebih diarahkan sebagai penopang ketahanan digital nasional. “Terutama sebagai backup ketika terjadi bencana seperti Sumatera kemarin,” katanya.