Gen Z ubah gaya hidup masyarakat digital



SUDUTBOGOR.CO.ID, JAKARTA — Dompet digital (e-wallet) kini bukan hanya menjadi alternatif metode pembayaran, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup finansial masyarakat. Industri ini memasuki tahap baru dengan hadirnya ekosistem terpadu dalam satu aplikasi yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan transaksi digital.

Riset terbaru Ipsos Indonesia bertajuk Digital Wallet Research 2026: User Behavior & Competitive Landscape menunjukkan bahwa dompet digital semakin terintegrasi dalam berbagai kebutuhan transaksi finansial harian. Mayoritas masyarakat menggunakan dompet digital untuk belanja online (86 persen), pembelian makanan dan minuman (77 persen), pembayaran tagihan rutin seperti listrik dan internet (69 persen), serta transfer ke rekening bank (68 persen).

Executive Director Ipsos Indonesia, Andi Sukma, menjelaskan bahwa peta persaingan dompet digital pada 2025 telah berevolusi dari sekadar meningkatkan kesadaran pengguna menjadi perlombaan pengembangan ekosistem digital dalam satu aplikasi. Riset terbaru IPSOS menunjukkan bahwa preferensi pengguna kini berakar pada keamanan sistem dan kedalaman integrasi layanan.

“Bukan lagi soal siapa yang paling dikenal, melainkan siapa yang paling mampu hadir di setiap titik sentuh kehidupan finansial masyarakat secara mulus yang terintegrasi,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Dalam momentum pertumbuhan yang pesat, terbuka ruang kompetitif bagi para pemain utama seperti ShopeePay, GoPay, DANA, dan OVO. Mereka menghadirkan inovasi berkelanjutan melalui ragam promo, penguatan fitur serta pengembangan ekosistem layanan yang relevan dengan kebutuhan transaksi digital masyarakat.

“Di antara para pemain dompet digital di Indonesia, yakni ShopeePay, GoPay, DANA dan OVO, ternyata ShopeePay menduduki peringkat pertama pada indikator utama,” ungkap Andi.

Adapun indikatornya antara lain, pertama indikator merek yang paling pertama diingat atau top of mind, 41 persen responden memilih ShopeePay. Lalu disusul dengan Dana (26 persen), GoPay (23 persen), OVO (delapan persen), dan lainnya (dua persen).

Kedua, indikator dompet digital yang digunakan dalam tiga bulan terakhir, ShopeePay menduduki peringkat paling tinggi dengan persentase 91 persen. Kemudian disusul dengan GoPay (67 persen), Dana (67 persen) dan OVO (44 persen).

Kemudian indikator jumlah frekuensi transaksi menggunakan dompet digital per bulan, responden rerata melakukan 23 kali transaksi per bulan menggunakan ShopeePay, disusul oleh OVO, GoPay, dan Dana.

Menurut Andi perubahan peran dompet digital dari alternatif metode pembayaran menjadi sebuah ekosistem terpadu dalam satu aplikasi tidak lepas dari peran Generasi Z (Gen Z). Generasi yang tidak sekadar menjadi pengikut arus, namun juga penentu standar dan penggerak dari kebiasaan baru di pasar.

“Kelompok yang bertindak sebagai akselerator paling agresif dalam ekosistem dompet digital ini adalah Gen Z,” sebut Andi.

Bukan lagi sekadar pengikut tren, sebagai digital natives yang lahir dengan kemudahan akses internet dalam genggaman, Gen Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap fungsi pembayaran yang dinilai dapat terintegrasi dengan gaya hidup digital. Andi menyatakan semakin luas jangkauan layanan digital, semakin dalam pula integrasi dompet digital dalam keseharian generasi muda.

Melalui hasil survei, aktivitas transaksi GenZ menggunakan dompet digital dalam kebutuhan sehari-hari terkonsentrasi pada beberapa alasan utama. Baik untuk berbelanja online, membeli makanan dan minuman, serta kebutuhan gaming dan layanan digital seperti pembelian pulsa dan bayar tagihan.