Startup Terangin dari ITS Tampil di Top 6 FGSIC 2026
Startup Terangin, yang berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil menembus posisi Top 6 dalam ajang Fowler Global Social Innovation Challenge (FGSIC) 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh University of San Diego, Amerika Serikat, pada tanggal 1 hingga 2 Mei 2026. Dalam kompetisi tersebut, Terangin bersaing dengan 43 semifinalis dari 34 universitas yang berasal dari 10 negara.
Inovasi Berbasis Energi Terbarukan
Terangin membawa inovasi berupa perangkap hama tanaman yang menggunakan kincir angin dan panel surya sebagai sumber listrik. Kincir angin digunakan untuk menghasilkan energi mekanik, sedangkan panel surya memberikan pasokan listrik tambahan. Kedua sumber energi ini digunakan untuk menyalakan lampu-lampu perangkap hama yang efektif dalam mengurangi kerusakan pada tanaman.
Muhammad Hanif, founder dari Terangin, mengatakan bahwa ia belajar banyak selama mengikuti kompetisi ini. Ia menyebutkan bahwa FGSIC memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertemu dengan calon klien internasional serta berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara yang memiliki tingkat kemampuan yang sangat tinggi.
Hanif juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya selama proses pengembangan startup. Ia menyebutkan dukungan dari Pertamina dan Pertamuda, kedua orangtua, serta para mentor yang selama seminggu terakhir memberikan bantuan dan arahan.
Dukungan dari Pertamina
Vice President Corporate Communication (VP Corcomm) PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian Terangin. Menurutnya, pencapaian ini menunjukkan bahwa inovasi anak bangsa memiliki daya saing yang tinggi dan mampu memberikan solusi nyata terhadap tantangan sosial global.
Baron juga menyampaikan bahwa Pertamina akan terus mendukung generasi muda Indonesia dalam melangkah ke panggung global. Hal ini dilakukan untuk menciptakan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat.
Startup Lain dari Indonesia
Selain Terangin, ada juga startup lain dari Indonesia yang turut berpartisipasi dalam FGSIC 2026, yaitu Pe-Novtra. Startup ini merupakan jebolan Pertamuda Seed and Scale 2025 dan berasal dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Meskipun tidak berhasil masuk Top 6, Pe-Novtra membawa inovasi berupa alat panen kelapa sawit yang berbasis self-charging system. Alat ini memanfaatkan teknologi piezoelektrik untuk mengubah tekanan dan getaran menjadi energi listrik.
Pendanaan untuk Pengembangan Solusi
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan solusi yang diusung, Tim Terangin yang masuk dalam Top 4 mendapatkan pendanaan sebesar USD 3.000. Juara 1 mendapatkan USD 25.000, Juara 2 sebesar USD 15.000, dan Juara 3 sebesar USD 10.000. Tim yang menempati peringkat 4 hingga 6 juga mendapatkan pendanaan sebesar USD 3.000.
Partisipasi Perguruan Tinggi Terkemuka
Beberapa perguruan tinggi ternama yang turut serta dalam FGSIC 2026 antara lain California State Polytechnic University, Colgate University, Michigan State University, San Diego State University, Georgetown University, dan University of London. Partisipasi mereka menunjukkan bahwa kompetisi ini memiliki reputasi yang baik di kalangan akademis dan industri.
Peran Penting dalam Ekosistem Sosial Entrepreneurship
Meskipun belum mampu menempati posisi tiga besar, pencapaian Terangin sebagai Top 4 tetap menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka sebagai social enterprise. Partisipasi ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem global social entrepreneurship, serta membuka peluang kolaborasi internasional di masa depan.
FGSIC sendiri merupakan kompetisi global yang bertujuan untuk mempertemukan startup berbasis social enterprise dari berbagai universitas dunia. Dalam ajang ini, para peserta mempresentasikan ide mereka melalui sesi pitching di hadapan juri, mentor, dan investor internasional.

